Tuesday, 23 June 2015

Cerita Tentang Sumpit

Kesukaan gue sama drama Korea udah gak bisa diragukanlah, sampai-sampai ada bagian kecil dari kebiasaan orang di Korea sana yang gue bawa-bawa dalam kehidupan nyata. Salah satunya adalah kebiasaan makan pakai sumpit. Entah sejak kapan mulainya gue udah lupa, tapi yang jelas kebiasaan makan pake sumpit ini udah gue lakonin sejak lama.



Siapa sih yang gak kenal sumpit, menurut Wikipedia sumpit adalah alat makan yang berasal dari Asia Timur, dan banyak digunakan di negara-negara seperti China, Jepang, Korea dan juga Vietnam. Tapi sebenarnya di Indonesia juga sering dipakai ketika makan mie ayam, kwetiau atau mie goreng. 

Sejak kecil gue udah kenal sumpit, dulu dirumah nenek gue selalu ada sepasang sumpit yang sering di pakai untuk makan mie. Bahkan pernah gue dimarahin guru ngaji gara-gara sepasang sumpit dari kayu bergambar naga. Ceritanya gue mau pake itu sumpit sebagai alat penunjuk ayat Al-quran ketika belajar ngaji, jelas gak di bolehin lah sama guru ngaji gue.

Bagi orang Indonesia yang terbiasa makan menggunakan sendok, menggunakan sumpit mungkin masih ada yang canggung karena nggak terbiasa. Tapi ada juga sebagian orang yang memang sudah sangat lihai menggunakan sumpit, bisa karena terbiasa. Gue juga awal mulanya masih sangat kesulitan menggunakan sumpit pertama-tama belajar pakai sumpit ketika makan mie atau kwetiau, kemudian lama-lama  gue makin terbiasa memakai sumpit untuk jenis makanan lain.  Tapi nggak setiap makan gue harus menggunakan sumpit ya, nggak lah. Menurut gue yang paling nikmat makan adalah dengan menggunakan tangan tanpa sendok ataupun sumpit apalagi makan dengan lalap-lalapan.

Gue bisa menggunakan sumpit belajar secara otodidak, nggak jelas juga sih gue makeknya udah bener apa belom. Gue nggak pernah belajar serius atau sengaja baca tata cara pake sumpit gimana, itu nggak. Yang jelas setiap gue berhasil menjepit makanan dan memasukkan ke mulut tanpa ada yang jatuh berati gue udah bisa pake sumpit heheh...

Dulu setiap nonton film kungfu, gue selalu kagum dengan adegan sang pendekar yang dengan mudahnya menangkap lalat menggunakan sumpit. Tapi buat gue  fungsi sumpit bukan hanya sekedar buat gaya-gayaan biar berasa kayak Park Shin Hye yang lagi makan tteokbokki, selebihnya ada misi terselubung dari penggunaan sumpit itu sendiri. Apa itu? cekidottt...

Jadi ceritanya, gue selalu merasa punya masalah dengan berat badan yang susah turun tapi cenderung gampang naik. Untuk orang yang malas olahraga seperti gue, program diet menjadi salah satu program mutlak yang nggak boleh nggak di lakonin dalam hidup gue. Dari dulu gue bisa menjalankan diet dengan  cara yang gila-gilaan mulai dari nggak mengkonsumsi nasi sama sekali sampai-sampai yang lagi booming sekarang yaitu diet mayo. Tapi makin kesini gue mulai sadar diet yang gue jalanin bukan hanya sekedar pengen langsing melainkan lebih ke faktor kesehatan mengingat usia gue yang udah kepala tiga ini. *beda-beda tipis lah sama lee min ho yang kemaren ulang tahun ke 29 tahun.

Terus apa hubungannya dengan sumpit??

Ada...

Gue pernah baca di salah satu artikel bahwa makan dengan menggunakan sumpit bisa membantu proses menurunkan berat badan, karena dengan menggunakan sumpit makan menjadi lambat sehingga membantu mengurangi asupan makanan setidaknya bisa mengurangi asupan sekitar 25 kalori. Untuk orang yang obsesif seperti gue metode nyeleneh seperti ini tentu gue lakonin secara gue memang suka menggunakan sumpit sejak lama.

Sebelum punya sumpit yang terbuat dari logam, dulu gue memakai sumpit yang terbuat dari kayu atau plastik. Gara-gara sering lihat sumpit di drama Korea yang terbuat dari logam gue jadi kepengen punya. Waktu masih tinggal di Bangka memang agak sulit mencari toko yang menjual sumpit dari logam rata-rata mereka menjual sumpit kayu atau plastik. Sampai ketika gue jalan-jalan ke sebuah supermarket gue lihat di bagian pecah belah ada jual sumpit dari logam, gue lupa berapa harganya saat beli, semuanya ada 6 pasang sumpit. Dengan bahagia gue bawa pulang itu sumpit.


ini penampakan sumpit gue

Meskipun sumpit gue nggak seperti sumpit yang berasal dari Korea, ini adalah sumpit kesayangan gue. Sumpit ini sudah cukup lama gue simpan dari zaman masih gadis sampai gue bawa hijrah ke Jakarta setelah menikah. Tadinya pengen banget punya sumpit Korea yang dari stainless tapi setelah hunting-hunting di Onlineshop harganya mehong juga. Jadi diurungkanlah niatnya untuk beli. Next time mungkin bisa beli, kalo ada rezeki lebih.

Jadi itulah sedikit alasan kenapa gue sering memakai sumpit untuk beberapa waktu makan, selain memang suka ternyata banyak hal menarik juga mengenai sumpit. Secara garis besar etika penggunaan sumpit berlaku disemua negara walaupun ada perbedaan di sana-sini bergantung pada negara dan daerahnya. Seperti misalnya di Tiongkok dan Jepang, sumpit dipegang di bagian tengah dan digunakan secara terbalik (bagian pangkal sumpit dijadikan bagian ujung sumpit) sewaktu memindahkan makanan dari piring makanan ke mangkuk nasi tapi bukan ke mulut. Sedangkan di Korea cara memindahkan makanan dengan bagian pangkal sumpit justru dianggap tidak higienis. Selain itu sumpit dianggap tabu bila ditusukkan berdiri di dalam mangkok berisi nasi karena menyerupai Hio (dupa) yang dinyalakan untuk mendoakan arwah orang yang meninggal.

Tidak hanya itu, budaya makan menggunakan sumpit juga mempunyai latar belakang filosofis. Filsuf China yang terkenal mengatakan:

"Makan dengan sumpit juga merupakan suatu pendidikan kebudayaan, karena garpu, sendok, dan pisau bisa digunakan juga sebagai senjata untuk berperang dan membunuh orang. Oleh sebab itu, garpu, sendok, dan pisau tidak pantas berada di atas meja makan".
Confusius (551-479 SM)


*dari berbagai sumber


Wednesday, 17 June 2015

Tentang Cinta Pertama

Dari judul mungkin udah terlalu mainstream ya, tentang cinta pertama ada nggak ya orang yang nggak inget sama sekali dengan cinta pertama nya? gue rasa mungkin sedikit dibandingkan dengan yang selalu ingat. 

Cinta pertama bagi kebanyakan orang adalah cinta yang sulit dilupakan entah itu meninggalkan kesan indah atau nggak tetap saja cinta pertama adalah fase pertama seseorang mengenal asmara. Boleh jadi cinta pertama adalah cinta yang tak terlupakan dalam hidup seseorang namun tak menutup kemungkinan kalau cinta ke 2,3,4 dan seterusnya memiliki kisah yang lebih indah dari cinta pertama.

Terinspirasi dari serial drama Korea My Love Eundong yang sedang gue ikuti. Sampai episode 6 gue masih berdecak kagum dengan penulis naskah Baek Mi Kyeong yang punya ide cemerlang menulis cerita drama ini. Berkisah tentang seorang aktor terkenal yang bernama Ji Eun Ho yang tidak bisa melupakan cinta pertamanya Eun dong. 

Dalam drama ini Ji Eun Ho digambarkan sebagai sosok pria yang setia, selama 20 tahun ia masih berharap bisa bertemu lagi dengan cinta pertamanya yang tiba-tiba menghilang. Kemudian pada satu waktu ia bertemu kembali dengan Eundong cinta pertamanya itu namun dalam kondisi yang berbeda, Eundong hilang ingatan tentang masa lalunya bahkan ia sudah menikah dan memiliki seorang putra. Tapi Ji Eun Ho tak pernah menyerah ia bahkan masih berharap bisa merebut Eundong ke sisinya lagi. 

Sebenarnya gue agak-agak gregetan dengan sosok Ji Eun Ho ini. Saking setianya gue malah melihat ia sebagai seorang pria yang lemah dan menyedihkan. Kalau di kehidupan nyata ada sosok pria seperti Ji Eun Ho mungkin bisa jadi ia seorang pria langka yang wajib dilestarikan. Tapi ini hanya kisah dalam sebuah drama ya, sampai episode 6 gue bisa menarik kesimpulan bahwa:

"Cinta pertama adalah cinta yang paling indah tapi perpisahan pertamalah yang paling dalam".

Gue masih sedikit bingung beda cinta pertama dan cinta monyet, karena pengalaman gue cinta pertama adalah cinta monyet gue yaitu ketika pertama kali gue suka dengan seseorang yang setiap kali melihat dirinya jantung gue nggak bisa berhenti berdegup dan pandangan gue nggak pernah lepas dari dirinya. 

Pertama kali kenal cinta pertama waktu gue kelas 5 SD. Masih terlalu dini memang ya, gue suka dengan kakak kelas gue yang menurut kaca mata bocah kelas 5 SD kala itu sangat tampan, pintar dan menawan. Sampai duduk di bangku kelas 2 SMP gue masih mengejar cinta pertama gue itu. Namun setelah dia tau gue suka dia dan berbalik dia membalas perasaan gue, gue malah kabur ketakutan. 

Syukurlah gue termasuk salah satu orang yang bisa melepaskan indahnya kisah cinta pertama dan hingga detik ini sejak gue tamat SMP gue nggak pernah lagi bertemu atau sekedar tau tentang cinta pertama gue itu. Pernah sekali melihat akun facebooknya, ternyata ia kini tampak berbeda tak setampan pandangan mata gue kala itu ketika gue masih pakai seragam putih merah.

Setiap orang pasti punya pengalaman cinta pertama yang berbeda-beda, ada yang meninggalkan kenangan manis dan juga ada pula yang meninggalkan kenangan pahit. Menurut gue kenangan cinta pertama itu sangat berbahaya Manis, bila bisa move on dan menjadikan kisah cinta pertama sebagai pembuka jalan untuk menemukan cinta yang sebenar-benarnya. Pahit, bila nggak bisa keluar dari first love syndrome. Karena cinta pertama tak selamanya penuh bunga, patah hati dan trauma akibat cinta pertama yang kandas akan selalu mengikuti. Dan jeleknya Brokenheart syndrome ternyata bisa berpengaruh untuk hubungan asmara di masa mendatang. Akan sangat fatal akibatnya bila nggak bisa lepas dari jeratan kenangan cinta pertama apalagi untuk yang sudah berkeluarga. 

Pernah ada seorang teman lama gue curhat tentang gimana rasanya lelah disiksa rindu. Ia bilang masih sering menangis di tepi tempat tidur karena selalu ingat mantan cinta pertamanya. Perasaan bersalah selalu ia rasakan setiap kali melihat suami dan anaknya. Horor juga sih menurut gue, ternyata kenangan cinta pertama itu sama berbahayanya dengan kehadiran orang ketiga. 

Sejatinya setiap orang menginginkan hubungan rumah tangga yang aman yang nggak pernah ngomongin mantan, nggak pernah digangguin cabe-cabean, nggak ada perselingkuhan, dan nggak pernah baperan seperti istilah anak gaul zaman sekarang. Itulah alasan mengapa gue selalu ketar-ketir kalo suami udah minta izin pengen dateng ke acara reunian teman-teman lamanya. Bisa jadi toh disana ada cinta pertamanya, hehehe.... gue adalah istri yang paranoid, yup itu benar!.

Mereka yang bahagia meski nggak mendapatkan cinta pertamanya adalah mereka yang benar-benar bisa melepaskan dirinya dari kenangan cinta pertamanya. Sepenuhnya mereka menyadari sudah tidak ada tempat untuk cinta pertama namun bahagia karena dulu dirinya pernah merasakan cinta pertama. 

Jadi kesimpulannya, gue salut dengan orang yang yakin menunggu cinta pertamanya, meskipun selalu ada kemungkinan dimana ia berhenti meraih apa yang tak bisa ia raih lagi. Seseorang yang kita pikir adalah milik kita, bisa jadi ternyata bukan milik kita. Kita memiliki kenangan yang indah bersamanya, tapi kita nggak akan pernah memiliki jalan hidupnya. 

Mereka yang bisa hidup bersama dengan cinta pertamanya mungkin adalah orang yang beruntung. Namun fakta lain  banyak pula orang yang hidup berbahagia meski itu dengan cinta yang ke 2,3,4 dan bahkan seterusnya. Seperti yang dikatakan Mario Teguh, cinta pertama jarang sekali menjadi cinta terakhir yang terbaik. Sabar saja, tetaplah pelihara kemuliaan diri anda.

"Berbahagialah orang yang bisa meraih cinta pertamanya atau yang bisa melepaskan diri nya dari kenangan cinta pertamanya. Cinta pertama memang indah, tapi cinta yang terakhir lebih dari sempurna".

Ditulis dengan segenap cinta^^


Wednesday, 10 June 2015

Cerita Gue: Antara Berdandan dan Memasak

Dalam hidup gue, gue sering merasa gak berbakat dalam dua hal yaitu berdandan dan memasak. Layaknya wanita dewasa masa kini yang sudah berkeluarga dan tinggal di ibukota yang WOW... ini setidaknya kemampuan dasar seperti itu harus sudah dikuasai sebelum menikah. Jadi kali ini gue mau ngebahas kedua point yang selalu masih menjadi ajang coba-coba dalam hidup gue.

Dandan



Mungkin ada sebagian yang persis seperti gue merasa jadi Cinta dalam film AADC. Di depan kaca dengan seperangkat kosmetik itupun kosmetik hantaran waktu nikah yang masih utuh karena jarang dipakai meskipun udah 3 tahun. Coba-coba pake lipstick terus hapus, coba lagi pake eyeliner terus hapus, dan begitu seterusnya tanpa hasil malah lebih mirip ke ondel-ondel khas Betawi. 

Bukan tanpa alasan temen gue ngasih julukan ke gue "wanita hampa tanpa lipstick dan pensil alis" tampaknya julukan ini memang sudah melekat pada diri gue. Dari dulu gue hanya mengandalkan bedak baby yang serba praktis tinggal tabur ditelapak tangan gosok-gosok dan usap kemuka. Sampai gue tamat kuliah dan terjun ke dunia kerja kebiasaan itu masih berlangsung. Pernah suatu hari gue ditegur Pimpred gue di tempat kerja, dia bilang kenapa jadi perempuan mukanya polos sekali bahkan istrinya turun tangan ngasih tips biar muka gue kinclong. Gue disuruh bikin masker dari beras ketan hitam yang direndam 3 hari lalu ditumbuk sampai halus. Gue lakonin nggak? tentu nggak. Dan istri bos gue pun nggak pernah tau kalau nasehatnya hanya masuk kuping kanan terus keluar lagi kuping kiri. 

Dulu gue punya masalah alergi kulit, jerawat bernanah yang menghancurkan fisik dan psikis gue secari membabi buta. Gue udah pasrah aja berbagai cream, salep, lotion dan resep dari mulut ke mulut udah gue lakonin. Hingga akhirnya gue masuk ke ruang praktek Dokter kecantikan yang katanya udah bersertifikasi. Bukannya sembuh malah gue jadi anti banget ke Dokter kecantikan. Kenapa? karena terlalu sadis dan gue ngerasa itu hal terhoror yang gue lakukan dalam hidup gue saat itu. Muka gue yang penuh motif polkadot nya di sedot sampe meninggalkan bekas parutan di pipi gue yang sampe sekarang masih membekas. Dalam hidup gue itu adalah pengalaman pertama sekaligus terakhir gue masuk ke ruang prakter dokter kecantikan.

Jadi kalau sekarang gue udah bisa dandan dikit-dikit itu bukan karena keharusan melainkan masih ajang coba-coba. Gue selalu inget nasehat emak dulu ketika gue belom menikah.

Emak bilang: 

"Jadi orang jangan males, coba belajar ngurusin badan, muka dipakein bedak, jerawat jangan dipites terus-terusan. Itu rambut disisir, bibir dikasih lipstick jangan balu kek gitu. Trus kalo gajian jangan cuma jajan beli makanan belilah parfum yang botol gede jangan minta punya emak terus-terusan". 

Dulu, mungkin emak gue nggak tau kalo anaknya ini bukanlah tipe cewek-cewek pada umumnya yang punya koleksi aksesoris, tas dan sepatu hak tinggi. Emak bahkan nggak tau kalau gue bukanlah tipe cewek girly yang suka dandan. Bahkan gue nggak suka dipusingin dengan UV protection yang tertera di compact powder atau lipstick seri berapa yang lagi ngetrend.

Yah, gue rasa emak gue dulunya memang nggak tau segalanya kalau anak perempuannya ini adalah seorang yang nggak pernah sekalipun nyentuh bedak atau lipcare atau bahkan sekedar body lotion. Dan satu hal lagi yang emak gue nggak pernah tau, dulu itu parfumnya bukan habis karena gue yang pakai. Itu parfum habis karena ketumpahan sama gue. 

Kalau dulu nasehat emak bisa gue counter attack dan gue bantah 100 %, tapi sekarang emak gue lebih hebat ngasih nasehat sekaligus ancaman. Setiap pulang ke Bangka setahun sekali gue nggak pernah ada perubahan di mata emak gue.

Emak selalu bilang:

"Itu badan kapan mau kurusnya, muka masih polos aja gak pernah make up. Tinggal di kota besar tapi kayak orang kampung, ntar dikira ahjumma loh? awas, suami tiap hari kerja diluar sana ngeliat orang-orang pada klimis dandan yang rapi eh, pulang kerumah liat bini awut-awutan".

Ekstrim banget kan emak gue, terus gue bisa apah kalo udah diceramahin gitu. Hanya bisa merenungi diri di depan cermin berharap tiba-tiba keajaiban terjadi cermin bisa ngomong bimsalabim jadi apa prok... prok...prok... dan gue berubah jadi Ha Ji Won. #terpaktarno



Masak




Dalam hal masak dulu gue sama sekali nggak pernah belajar dari emak gue yang emang pinter masak. Paling gue hanya bantu-bantu motong sayuran dan bumbu di dapur. Kalau teman gue selalu penasaran dengan resep dan cara masak makanan baru yang di makannya, gue malah nggak minat sama sekali boro-boro ngambil pena dan buku untuk mencatat resep tersebut. Tapi semenjak menikah gue emang getol banget belajar agar bisa masak dan masakan gue layak dimakan oleh suami, istilahnya gue pengen kayak iklan bikin sejarah dalam keluarga gue dengan masakan gue. Karena ada yang bilang "ibu yang hebat adalah ibu yang pandai memasak". Gue akui gue memang masih jauh dari sosok istri dan ibu yang sempurna, masakan gue masih sering labil kadang bisa enak kadang bisa ancur. Kalo dilihat dari bakat turun temurun keluarga gue almarhum nenek, budhe, nyokap dan tante-tante gue semuanya bisa masak apalagi bikin kue semuanya bisa.

Kalau kata emak gue, itu semua proses dan belajar aja dari pengalaman. Bikin kue pun gitu sekali dua kali masih bantet yang ketiga kali pasti ada kemungkinan sukses. Pokoknya terus mencoba jangan putus asa. 

Dari semua yang dikatakan emak, gue belajar hal-hal penting lain yang lebih dari sekedar tau cara memasak yang enak. Dari memasak gue mulai belajar mengasah "feelings" karena memasak bukan cuma sekedar takaran yang sifatnya pasti dan tepat seperti yang ada di buku resep. Seperti contoh ketika gue bikin pancake di resep tertera di campurin mentega sebanyak 50 gram ketika gue cetak ternyata pancake gue melempem dan gue baru merasakan pancakenya lembut dan mengembang setelah gue kurangin mentega nya hanya seukuran 1 sendok makan. Gue biasanya emang terlalu pede dalam hal memasak, gue nggak terlalu terpaku pada resep atau tutorial cara memasaknya. Gue pernah punya pengalaman gagal bikin donat sampai tiga kali karena terpaku sama resep dan tutorialnya. Eh, donat gue bukannya empuk malah bantet karena adonannya nggak ngembang dan ternyata cara nyampurin ragi nya salah.

Dan yang terakhir pesan emak gue:

"Memasaklah dengan hati, niatin kita memasak untuk membahagiakan orang yang makan makanan yang kita masak".

Kuncinya "Just keep it simple" buatlah sesederhana mungkin jangan berpikir terlalu jauh dan rumit. Dengan begitu hati, otak dan tangan akan sinkron dengan sendirinya hingga hasil yang di dapat benar-benar layak untuk dinikmati.

Oke itu sekilas mengenai dilema emak-emak rumah tangga yang kesehariannya nggak jauh-jauh dari eksperimen dan hal coba-coba.  Gue cantumin juga resep Mie Kuah Ikan Khas Bangka dan Lava Cake yang pernah gue posting di Instagram gue beberapa waktu lalu.

Resep Mie Kuah Ikan Bangka

A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

Bahan:
Kalau di Bangka biasanya pakai mie basah, tapi mie telur juga gak apa-apa
Mie telur 1 bks
Tauge 100 gr
500 gr daging ikan tenggiri/selar
Daun bawang, seledri
Tomchoy (sejenis sawi putih asin)
Air kurang lebih 2 ltr

Bumbu:
Bawang merah 10 siung
Bawang putih 6 siung
Jahe setengah ruas jari
Gula merah secukupnya
Lada 1 sdt teh
Kecap manis 2 sendok makan
Minyak goreng untuk menumis
Garam, gula dan penyedap rasa secukupnya

Cara masak:
Daging ikan direbus sampai empuk, sisihkan air kaldunya (kalau gak suka amis ikan, airnya boleh dibuang dan ganti air baru) kemudian daging ikannya dihaluskan. Tumis bawang merah, bawang putih, dan jahe yang sudah dihaluskan sampai harum, sisihkan. Masak air untuk kuah setelah mendidih masukan bumbu yang sudah ditumis beserta daging ikan yang sudah dihaluskan tadi, aduk rata dan masak dengan api sedang. Setelah mendidih masukan gula merah, kecap manis, lada bubuk, garam, gula dan penyedap rasa. seimbangkan rasa.

Penyajian:
Tata mie, tauge, daun bawang, seledri, dan tomchoy dalam mangkok, tambahkan kuah lalu tabur bawang goreng lengkapi juga dengan cabe rawit, cuka atau jeruk kunci.


Resep Lava Cake

A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

Bahan:
2 butir telur
1 sdm gula pasir
20 gram susu bubuk coklat (bisa pake milo)
2 sdm penuh margarine
3 sdm terigu segitiga biru
80 gr dark chocolate

Cara masak:
Lelehkan coklat dan margarine, setelah meleleh masukan susu bubuk coklat aduk rata. Dimangkok terpisah kocok telur dan gula dengan garpu sampai gula larut, masukan terigu aduk rata, masukan adonan coklat aduk rata. Setelah itu masukan ke cetakan yang sudah di oles margarine. Kukus pakai api besar selama 7-10 menit. Angkat dan sajikan.

Note:
Gue pernah nyoba kukus selama 7 menit, pas di cetak bagian atasnya belom mateng dan terlalu meleleh. Terus gue coba lagi kukus sekitar 8-9 menit barulah hasilnya memuaskan pas di belah lavanya keluar. Total semua persiapan sekitar 15 menitan. Pake timer hape jadi pas di 8-9 menit langsung angkat. Satu resep jadinya 4 porsi ukuran cetakan diameter 7 cm dan tinggi cetakan 3 cm.

selamat mencoba ya^^