Tuesday, 26 May 2015

Cermin

Gue nulis ini sekedar mengingatkan diri sendiri agar tak menyimpang dari kaidah kehidupan normal sebagai orang normal yang masih memiliki otak dan hati yang normal. Maaf mungkin gaya bahasa gue agak-agak #tervickynisasi. Tapi gak apa-apalah toh gue nulis di blog gue sendiri, dengan jemari gue sendiri dan yang pasti laptop gue sendiri bukan laptop pak Selamet ketua RT depan rumah. Jadi suka-suka gue lah biarpun bahasanya kacau dan font nya maaf... mungkin bikin sakit mata orang yang baca. Karena yang gue yakini bukan hanya gue blogger di Nusantara tercinta ini yang nggak melakukan kesalahan.

Back to topik
Jadi intinya gue akan mulai nulis tentang cermin, terinspirasi ketika mencet jerawat tadi sore. Sempat gue merenungkan beberapa hal ketika gue menghadap cermin. Berkaca, menatap diri dalam cermin, menyelami diri sendiri, mencari arti dan juga makna kehidupan ini tsahhhh.... agak berat pembahasannya pemirsah. Tak sedikit orang yang berpendapat yang mengenal dirinya adalah dirinya sendiri. Dan menurut gue pendapat seperti itu adalah pendapat yang paling sombong di muka bumi ini karena yang pasti menurut gue terlalu banyak bagian dari diri kita ini yang hanya terlihat dari luar saja.





Nggak ada yang ngelarang  kok kalau kita menganggap diri kita yang paling baik, paling sempurna dan paling bersih. Namun ketika kita bercermin dan cermin tersebut menunjukkan hal yang lain maka kita harus mengaku kalah dan membuang jauh-jauh keyakinan tersebut. Salah satu peribahasa "buruk rupa cermin dibelah" yang artinya kita harus sering-sering bercermin karena sikap kita merupakan cerminan hati kita.  Dan pada hakekatnya begitulah fungsi cermin yaitu menampilkan bayangan diri kita agar dapat memperbaiki apa yang perlu diperbaiki dan membangun apa yang perlu dibangun.

Kalau ada yang masih ingat istilah hukum karma, tabur panen, timbal balik, sebab akibat dan ratusan ungkapan lainnya, ungkapan sikap orang lain terhadap kita adalah cerminan diri kita. Jadi kalau mau dihargai maka kita juga harus menghargai orang lain. Begitulah salah satu implementasinya dan hal yang paling penting orang lain akan melihat hal yang sama seperti kita melihat sebuah cermin. Terkadang gue sebagai manusia juga masih sering melihat apa yang ingin gue lihat dan hanya mendengar apa yang ingin gue dengar sampai akhirnya ketika bercermin maka yang gue lihat adalah sosok orang lain.

Jadi kesimpulan yang gue dapat dari kejadian sore tadi ketika mencet jerawat adalah  "kalau ingin melihat diri sendiri sebenar-benarnya dan ingin memperbaiki kesalahan maka lihatlah cermin". Dia berada dekat sekali tidak sampai sejengkal dari benda berdegup penanda hidup matinya manusia. Bahkan suara dan gambarnya selalu ada. Tetapi biasanya kita sebagai manusia tak akan mau melihatnya karena pahit yang ditampilkan cermin tersebut. Ia tidak bisa goyah. Percayalah sehebat apapun kita berdebat ia tidak akan berubah, sejauh apapun kita berpaling ia tidak akan pergi, sebagus dan semahal apapun pakaian yang kita pakai ia selalu dapat melihat ke dalam diri kita yang telanjang. Itulah yang dinamakan nurani.

Sebagai pengingat diri sendiri gue nggak merasa kapok berkali-kali tertampar karena kesalahan. Gue akan belajar dari setiap kesalahan, karena gue yakin nggak ada kesalahan yang nggak bisa diperbaiki sebelum gue kehilangan hal-hal yang mungkin suatu saat bisa jadi gue sesali.

"Cermin tak pernah berbohong? Cermin selalu berdusta. Ia berdusta kepada kita dan bayangan kita. Ia berbohong tentang kiri dan kanan. Ia berbohong tentang timur dan barat. Jangan pernah bertanya pada nurani, karena ia seperti cermin. Biarkan ia pecah dan berantakan, lalu lihat dirimu yang terkutuk".
"The mirror crack'd" from side to side.



Saturday, 23 May 2015

Mengubah Gaya Hidup: Ketika Gue Menjajal Rawfood


Di tengah cuaca panas Jakarta yang tak bersahabat, tiba-tiba suami gue bilang kalo hari ini dia lagi belajar memulai hidup tanpa rokok. Wow.... gue kaget dong dengernya, antara percaya nggak percaya.
"Emang bisa"? langsung pertanyaan terlontar dari mulut gue. 
"Harus bisa bund, tapi kepala ayah pusing nih" sambungnya. 
"Harus bisa dong yah, kalo mulutnya terasa asem ngemut permen aja kalo nggak ngemut garam aja tuh" kata gue lagi sambil bercanda. 

Dari dulu gue udah sering cerewetin suami masalah rokok apalagi kalau dia ngerokok abis makan atau sebelum tidur sebel banget gue sama kebiasaannya itu. Pernah gue dengan sepenuh hati minta suami untuk ninggalin rokoknya ketika baru-baru menikah namun dengan perlahan suami bilang itu butuh proses dan dia bilang lebih duluan kenal rokok dibanding kenal sama gue. Gue sewot dong di jawab begitu, ibarat seseorang yang gak bisa melepas bayangan cinta pertama nya aja. 

Siapapun tau jeleknya rokok untuk kesehatan, nggak usah gue jelasin panjang lebarlah. Kalo inget dulunya gue ngarep banget dapet suami yang gak ngerokok karena gue nggak suka rokok dan orang yang merokok. Pendapat gue tentang rokok masih sama seperti dulu dan gue nggak akan terpengaruh cuman karena ngeliat sekeliling pada merokok. Gue udah hidup 30 tahun lebih di lingkungan "berkabut pekat" dan tetep gue nggak pernah kepikiran untuk merokok. Kadang orang punya alibi rokok bisa menjernihkan otak yang sedang kusut, stress bisa ilang hanya dengan sebatang rokok. Gue nggak pernah tau itu teori dari mana, semua berasal dari kebiasaan sih menurut gue. Untuk menggantikan fungsi pensieve yang paling mantep buat gue adalah Indomie super pedas dan segelas air es. Those two will help me clear my mind.

Hari ini kelihatan banget suami gue agak-agak gelisah gitu, mungkin dia galau mau ngerokok lagi apa nggak. Gue bilang ke suami begitulah yang juga gue rasakan kalau lagi diet antara mau makan apa nggak. Sulit banget untuk menahan nafsu. Jadi butuh banget support dari orang terdekat. Soalnya suami gue sangat nggak mendukung gue diet, dia masih suka godain gue ngajak makan Indomie di tengah malem buta. Tapi untuk ninggalin rokok gue selalu mensupport niat baiknya ini. Semoga aja suami gue bisa melalui hari-hari sulitnya lepas dari jeratan cinta pertama nya itu. 

Sama dengan suami yang sedang berusaha menghilangkan rokok dalam kehidupannya, gue pun demikian sedikit demi sedikit mulai belajar meninggalkan kebiasaan buruk gue. Semenjak menikah dan punya anak gue mulai belajar merubah pola makan, emang sih niat utama gue adalah mau menurunkan berat badan gue yang udah mencapai angka paling horor dalam hidup gue. Habis melahirkan dan sekarang Raheesa udah 2,5 tahun gue belum berhasil menurunkan berat badan ke angka semula. Biar dikatain pelit gue nggak akan membocorkan angka horor tersebut. Keturunan keluarga gue memang punya rangka badan yang gede jadi walaupun gue kurus kalau ditimbang angkanya pasti gede diatas 55 kg. Kalau ngewarisin emak gue mungkin gue nggak ada bakat gemuk karena keturunan dari Emak gue badannya langsing-langsing. Gue mungkin mewarisi bakat subur dari sebelah Ayah gue, punya paha lebar, lengan lebar dan belulang perut yang tebal.

Kalau dulu gue masih bisa makan sembarangan, gorengan, baso, somay dan semua jajanan diluar sana, tapi kali ini gue mulai belajar putus hubungan dengan semua makanan enak itu. Mau nggak mau gue harus mulai sebelum berat badan gue mencapai angka yang paling mengerikan. Apalagi sekarang gue sering ngeluh pusing setiap habis makan seafood. Gue takut kolestrol tinggi dan obesitas kalau gue terus-terusan makan tanpa sadar itu baik apa nggak untuk tubuh gue. Berbagai metode diet udah gue coba mulai dari Food Combining, diet golongan darah, OCD nya Dedy Corbusier, Diet mayo tanpa garam, diet detoks sampai diet ekstreem tanpa nasi dan gula. Namun metode diet yang berbeda-beda itu membingungkan gue sampai gue menemukan metode terbaik hingga akhirnya sampailah gue ke "Rawfood".

Salah satu yang menginspirasi gue adalah artis Sophie Navita, istrinya Pongki Baratha ini mengubah pola hidupnya menjadi pecinta Rawfood yaitu hanya makan buah dan sayuran mentah atau sayuran yang hanya dimasak dengan suhu rendah. Menurut mbak Sophie pola makan rawfood ini banyak banget manfaatnya untuk kesehatan. Sejak ia merubah pola makannya ia sekeluarga mengalami banyak perubahan mulai dari tubuh yang ramping juga bonus kulit yang sehat. Gue pernah nonton dia disalah satu acara dan mulai saat itu gue rajin banget ngintip Instagram nya dan baca blognya dari situ gue terinspirasi pengen hidup sehat dan menjajal Rawfood. Nggak usah gue jelasin disini ya apa itu Rawfood karena gue pun belum 100% Rawfood dan terkadang masih suka bablas makan sembarang. Kalau pengen tau bisa baca blognya mbak Sophie atau searching di Google.



Gue bisa beradaptasi dengan jenis makanan Rawfood karena pada dasarnya sejak kecil gue adalah Fruitarian addict dan pecinta sayur-sayuran. Dari kecil gue udah suka banget makan lalapan jadi gue nggak pernah masalah dengan makan sayuran mentah. Untuk sekarang mungkin gue menerapkan dulu ke diri gue sendiri karena kalau ingin mengajak keluarga harus punya komitmen yang kuat "everybody harus berubah" begitulah yang gue tanamkan dalam diri gue. Untunglah suami gue makannya nggak neko-neko, nggak punya makanan favorit selain jengkol, jadi masih bisa di ajak makan sehat. Dan untuk Raheesa dari pertama MPASI udah gue kenalin buah-buahan dan sayuran jadi sampai sekarang nggak ada masalah makan sayur dan buah semuanya di hajar. 

Sayuran favorit gue adalah brokoli dan mentimun, selain mudah diolah dua jenis sayuran ini cukup mengenyangkan. Cara mengolahnya pun sangat sederhana. Kalau timun biasanya gue bikin acar dan untuk brokoli cukup di rendam dengan air panas 1 menit terus ditaburin bawang putih yang digoreng dengan minyak zaitun. Kalau iseng pengen ngemil biasanya gue ngemil makanan olahan dari buah-buahan seperti alpukat dan tomat, minum smoothie campuran buah dan sayuran juga jadi favorit gue. Atau kalau lagi pengen yang legit-legit gue  bikin pisang bakar madu yang ditaburin bubuk kayu manis.

Beberapa contoh makanan olahan gue:
A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

A photo posted by Tary Onnie (@taryonnie) on

Awal-awalnya agak sedikit susah menyesuikan diri dengan pola makan yang aneh begini. Kesulitannya ketika menghidangkannya untuk suami, dia selalu bertanya "ini apa" dan gue kalau males ngejelasin hanya bilang "udah makan aja". Dasar suami gue orangnya nggak pernah komplain dengan masakan istri jadi apapun yang gue kasih semua dimakan. Tapi setiap hari selain menghidangkan Rawfood gue masih masak makanan lain misalnya ayam opor, sop, sambel dan goreng-gorengan untuk suami. Masih belum bisa 100 % Rawfood, masih abal-abal lah tapi apa salahnya mencoba beralih ke pola makan sehat kalau sebenarnya itu yang dibutuhkan oleh tubuh. 

Sekarang kalau belanja daftar barang utama yang gue beli adalah sayuran dan buah-buahan. Gue bahagia banget kalau di kulkas gue banyak stok buah dan sayur. Memang pengeluaran bulanan agak sedikit membengkak karena dua hari sekali paling nggak gue harus belanja buah dan sayuran segar dan gue setiap hari juga harus masak yang berbeda-beda untuk suami dan Raheesa karena Rawfood tidak dianjurkan untuk anak-anak.

Hampir 2 bulan menjajal Rawfood, yang paling gue rasain banyak perubahannya adalah gue gak pernah ngeluh pusing dan BAB gue lancar. Masalah utama gue sebenarnya ada di sistem pencernaan karena dulu gue hanya bisa BAB setiap dua atau tiga hari sekali.

"masih tertarik sate padang sih sebenarnya, batagor di pertigaan komplek juga enak tuh, apalagi mpek-mpek kapal selam yang kuahnya sangat menggoda itu". Dan ajakan suami makan bakmi bangka terkadang masih sulit untuk di tolak. Begitu susahnya menepis nafsu, apalagi urusan perut. Namanya juga belajar harus bisa menahan diri. Ini bukan buat gaya-gayaan atau sekedar ngikutin trend biar disebut kekinian, lebih ke masalah pilihan dan keinginan untuk hidup lebih baik.


"Rawfood itu adalah pilihan, kalau orang-orang suka dan cocok, kenapa tidak dicoba. Tugasnya adalah makan berkesadaran, karena gue percaya makanan enak itu hanya enak dilidah saja". 

#edisimensupportdiri


Tuesday, 5 May 2015

Jodohku... Dimana Jodohku

Masa remaja gue bisa dibilang cukup bergelora. Gue bahagia bisa melakukan banyak hal dimasa muda gue. Menyalurkan hobi, melakukan traveling, mencoba hal-hal yang baru dan menemukan banyak teman. Apapun yang gue lakukan dulu semua didasarkan oleh kata hati, tanpa ada sedikitpun intervensi dari kedua orang tua termasuk dalam hal memilih jodoh. Kalau pernah merasakan manis, maka tak afdol kalo belum merasakan pahit begitupun dalam masa remaja, ada cerita bahagia ada pula cerita sedih kebanyakan sih dalam urusan pertemanan dan percintaan. Hilang satu teman udah biasa terjadi, tapi berkali-kali kehilangan pacar itu sudah masuk kategori luar biasa.

Kali ini gue bukan mau cerita tentang mantan-mantan pacar gue yang nggak beruntung itu yah, nggak etis ajah kalo gue ceritain di blog ini secara diam-diam suami gue mungkin pernah khilaf baca tulisan istrinya. Paragraf diatas hanya sebagai kata sambutan, gue sebenarnya pengen nulis tentang jodoh seperti judul diatas jodohku dimana jodohku? yang jelas bukan di Jonggol seperti kata Wakwau.  Gue berniat menulis tentang jodoh ini setelah melihat status seorang teman yang menulis "jodohku... dimana" di beranda Facebooknya tadi pagi.




Jodoh memang rahasia Illahi nggak ada satupun manusia di muka bumi ini yang sejak pertama lahir udah ketahuan berjodoh dengan siapa, atau nggak ada satupun manusia di bumi ini yang bisa request sama Allah pengen berjodoh dengan siapa. Semua benar-benar rahasia sampai masanya itu tiba. Gue contohin diri gue sendiri jatuh bangun putus nyambung dalam hal percintaan siapa sangka gue bakal berjodoh dengan teman chatting gue di YM, nggak dapet firasat apapun ketika pertama kali kenal kalo suami gue ini adalah jodoh gue. Atau contoh lain mantan pacar gue yang gagal gue nikahin nggak taunya berjodoh sama saudara sepupunya sendiri, gue yakin diapun sebelumnya mungkin nggak pernah tau kalau sepupunya sendiri adalah jodohnya.

Jodoh pada dasarnya bukan sekedar bertemu terus merasa cocok dengan apa yang kita idam-idamkan. Misalkan dulu ekspetasi gue mencari jodoh pengen cowok yang ganteng, rambut keriting dan bermata elang seperti Nicholas Saputra namun yang gue temui adalah laki-laki yang mungkin gak setampan si Nico tapi bisa bikin hati gue klepek-klepek kayak lagu dangdut. Kenyataan bisa berbanding terbalik dengan khayalan kadang apa yang kita dapatkan nggak seperti yang kita inginkan. Seperti kata gue tadi kalo bisa request jodoh sama Allah mungkin banyak orang yang request jodoh sesuai dengan yang diinginkannya. Bahkan gue mungkin dengan tidak tau diri request minta berjodoh sama Lee Min Hoo. Eh tapi kalo gue berjodoh sama Lee Min Hoo, gue mungkin nggak kuat mental dan bisa kurus kering karena cemburu buta  ngeliat doi beradegan mesra dengan Park Shin Hye dan artis cewek lainnya.

Jodoh adalah hal yang ghaib kita nggak bakalan tau bakal berjodoh dengan siapa, mungkin si kaya dengan si miskin si ganteng dengan si buruk rupa, bila Allah sudah berkehendak nggak ada satupun manusia yang bisa menolak. Bisa jadi di masa yang akan datang gue besanan sama Kate Middleton anak gue jadi mantu Kerajaan Inggris. Seandainya Pangeran George jadi mantu gue, gue borong tuh semua tiket konser SUJU buat GankKdrama biar nggak ada yang galau gak kebagian tiket. *emak-emak mulai delusional.

Jodoh nggak bakalan ketukar, mungkin cuma di sinetron aja ada judul jodoh yang tertukar. Upss... salah ya? Dari masih berbentuk jabang bayi di dalam kandungan, ketika ruh kita ditiupkan disana sudah ditentukan Allah takdir bagi kita mulai dari rejeki, jodoh dan maut. Kalau pacaran terus putus dan gagal menikah itu adalah takdir berarti dia bukan yang terbaik. Bahkan orang yang sudah menikah pun kalau masa jodohnya udah expired bakal berpisah juga. Gue pernah baca di salah satu buku tentang pernikahan " pasangan yang menikah itu belum tentu itu jodohnya " jodoh belum tentu bisa terwujud dalam suatu pernikahan. bisa jadi setelah menikah lalu bercerai dan menemukan jodoh yang lain. Tapi maunya gue semoga suami gue jodoh gue satu-satunya seperti lirik lagu Anang dan Ashanty berikut ini.

jodohku... maunya ku dirimu... 
satu cinta hingga ajal menjelang ...
aku dan kamu satu, saling mencinta syalala...lala...lala...

Jodoh itu bukan menyatukan dua hati yang berbeda, tapi menyatukan satu hati yang terbelah menjadi dua. Ingat kata Pak Mario Teguh 

"Jodoh kita yang memilih, Tuhan yang merestui. Tidak ada satupun yang bisa menjadi jodoh kita kalau bukan kita yang menjodohinya. Maka jadilah pribadi yang baik agar baik juga belahan jiwa yang di jodohkan Tuhan untuk kita".

Tapi yang seringkali terjadi banyak orang mencari jodoh hanya melihat secara fisik aja, wajah tampan punya mobil keren dan punya profesi yang menjanjikan sehingga mendorong seseorang mencari pasangan hidup sesuai dengan apa yang diinginkannya padahal belum tentu itu pasangan terbaik yang mengerti dan mau menerima apa adanya. Sekali lagi gue bilang kita perlu berkaca. Berkaca pada diri sendiri sudah pantaskah gue memiliki jodoh yang baik, yang sempurna seperti yang gue impikan. Bila belum ketemu juga serahkan semua kepada Tuhan, karena jodoh di tangan Tuhan belum kalau waktunya belum tepat, nanti kalau harus pantaskan diri dan tidak jika dia bukan yang terbaik. Janganlah pesimis bagi yang belum bertemu jodohnya tetap berdoa dan berikhtiar.

"Berdirilah di depan cermin, lihat dirimu sendiri seperti apa. Jodoh itu tergantung dari diri kita sendiri, jika kau baik maka jodoh yang baik akan datang dengan sendirinya. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik begitu juga sebaliknya".


Saturday, 2 May 2015

Cerita Tentang Kebun Harapan


Masih dalam suasana weekend, sebelum jalan-jalan ke Kota Tua sore ini gue pengen cerita tentang kebun harapan. Kenapa gue sebut kebun harapan? karena di sebidang tanah ini bertumpu banyak harapan dari orang-orang terkasih gue, terutama Ayah yang disetiap jengkal tanah di kebun ini menetes keringatnya. Kebun ini memang bukan milik ayah, tanah ini dibeli sama Om gue 3 tahun yang lalu daripada kosong jadi Ayah dan Om gue mencoba peruntungan menanam pohon lada.

Bangka memang terkenal sebagai daerah penghasil lada, dulu sebelum orang-orang beralih ke bisnis pertambangan timah, lada merupakan salah satu sektor yang menghasilkan di Pulau Bangka. Lada putih Bangka kualitasnya adalah yang terbaik di dunia karena tingkat kepedasan, aroma dan kandungan minyaknya tertinggi dibanding yang lain. Zaman gue SMA sekitar tahun 2000 an, harga sekilo lada bisa mencapai 150 ribu rupiah/kilogram, saat itu dengan harga 150 ribu/kg dinilai sudah cukup mahal, dan dari tahun ke tahun harga lada selalu bergerak naik.

Sebelum mengenal bisnis pertambangan timah, dulu sebagian masyarakat Bangka mengandalkan lada sebagai sumber mata pencaharian. Tetangga gue dulunya adalah petani besar, mereka memiliki kebun lada yang banyak dan luas sampai-sampai mengambil pekerja dari Pulau Jawa untuk mengurus kebun dan memetik lada pada saat panen tiba. Setiap musim panen, mereka mengeruk keuntungan yang sangat banyak dari hasil berkebun lada. Saat itu banyak petani Bangka yang makmur karena lada namun ketika mereka beralih ke bisnis pertambangan timah banyak petani yang tergiur bahkan ada yang menjadikan lahan kebunnya sebagai tempat menggali timah. Setelah timah dikeruk menyisakan lahan yang hancur dan tanah yang berubah menjadi kolong-kolong berair menyerupai danau kecil, tanah yang sudah hancur itu butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk mereklamasinya untuk bisa ditanami lagi. Hal seperti ini sangat banyak terjadi di Bangka. Banyak petani beralih menjadi penambang, namun setelah pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap penambangan timah ilegal perlahan-lahan petani Bangka mulai menggarap kebun dan menanam lada lagi.

Ayah gue sebenarnya bukan petani, dulu ia berwiraswasta namun sudah beberapa tahun belakangan ini ia beralih profesi menjadi petani. Om gue ngemodalin membeli bibit, pupuk dan semua keperluan untuk menanam lada, Ayah gue yang menanam dan mengurus semua hal yang ada dikebun. Dulu sempat ada dua orang yang ikut bekerja menjaga kebun namun tahun kemarin balik ke kampungnya di Jawa dan sekarang kebun hanya di jaga oleh 2 ekor anjing. Ayah gue menanam 3000 pohon lada sekarang ada 1000 pohon yang sudah berbuah dan siap menunggu panen. Usai lebaran Idul Fitri ini lada yang 1000 pohon itu sudah bisa panen karena biji buahnya sudah besar dan utuh tinggal menunggu matang.

Ini suasana di kebun beberapa waktu yang lalu, poto diambil sama sepupu gue saat acara kumpul makan bareng di kebun. gue sempet iri banget karena gak bisa ikutan.



Pondok kebun



Hamparan pohon lada yang tumbuh subur



Pohonnya menjulang tinggi



Bulir-bulir buah lada siap menunggu matang


Proses menanam lada memang agak ribet dibanding menanam pohon lain, setelah pohonnya tinggi lada harus diberi kayu penyangga. Orang Bangka biasa menyebutnya kayu junjung. Kayu junjung ini juga dipilih dari kayu yang kuat dan tidak mudah lapuk, karena masa panen lada yang cukup lama minimal 3 tahun  kayu penyangga yang dipilih pun harus yang benar-benar kuat dan tahan dari rayap. Selain itu harus dipantau juga waktu memupuk dan menyemprot hama pohonnya.

Ayah dan Om gue menanam dan mengurus pohon ladanya sendiri, kemaren waktu pulang kampung gue sempat main ke kebun dan luar biasa semua pohon lada tumbuh dengan subur pohonnya tumbuh menjulang tinggi, daun-daunnya lebat dan mulai berbuah bahkan sebagian mulai matang dan siap panen. Semoga tangan ajaib Ayah membawa berkah panen yang banyak dan semoga harga lada bergerak naik menacapai level yang tinggi. Gue selalu berdoa semoga usaha dan kerja keras Ayah gak sia-sia. Setiap tetesan keringat yang jatuh dibalas Allah dengan beribu-ribu kebaikan. Seperti pohon lada yang rimbun daunnya dan lebat buahnya moga rezeki Ayah juga  seperti itu. Semua harapan, semua keinginan dan cita-cita bertumpu di sana, di kebun harapan.  Good job ayah.... 


"Setiap ada doa dan usaha, disana harapan niscaya akan jadi nyata".


Friday, 1 May 2015

Cerita Tentang Barbie Pertama Raheesa


Waktu kecil sebenarnya gue tumbuh menjadi anak perempuan yang girly, mainan favorit gue adalah boneka. Boneka beruang coklat berbaju motif kotak berwarna hijau adalah boneka pertama yang gue miliki. Dulu nyokap gue jarang beliin gue boneka, seingat gue setiap nyokap ke pasar gue selalu ngerengek minta dibeliin boneka cewek yang ada rambutnya, namun lagi-lagi gue harus kecewa karena setibanya dirumah boneka yang gue minta gak pernah ada, dan sebenarnya gue cukup paham dengan alasan  nyokap gak beliin boneka permintaan gue. Dulu setiap moment lebaran adalah hari yang paling membahagiakan bagi gue karena di hari itu gue bebas membeli apapun yang gue mau dengan uang THR pemberian orang tua, boneka adalah barang yang selalu gue beli setiap moment lebaran.

Boneka berambut emas dengan mata bulat adalah boneka favorit gue, biasanya gue rajin banget bikin baju-bajuan dari daster bekas nyokap. Waktu duduk di SD gue belum kenal boneka Barbie, pertama kali lihat Barbie adalah kepunyaan anak tetangga baru gue yang ngontrak di depan rumah, namanya Santi pindahan dari Jakarta orang tuanya berasal dari Irian Jaya. Bonekanya banyak banget mulai dari yang besar sampai yang kecil mulai dari boneka Teddy Bear sampai dengan Baby Doll lengkap dengan pernak-perniknya. Dari semua boneka yang ia miliki gue kepincut sama boneka Barbie miliknya, waktu itu di kampung gue sepertinya dia doang yang udah mainin Barbie. Saking banyaknya boneka yang ia miliki bikin gue iri banget, tapi gue masih kecil tetap tau diri. Sadar nyokap gue gak bakalan mau beliin dan di kota gue gak ada juga yang jualan Barbie gue memendam hasrat pengen punya boneka Barbie itu sampai gue gede.

Nyokap gue tau gue demen banget sama boneka, pernah suatu ketika diulang tahun gue yang ke 25 tahun 3 buah boneka Micky Mouse dan Donald Bebek jadi hadiah kejutan buat gue. Seperti halnya seorang anak kecil yang bahagia banget ketika mendapat boneka baru, rasa yang sama juga gue alami ketika gue ngelahirin Raheesa. Bagai mengulang kembali masa-masa membahagiakan di waktu kecil, melahirkan seorang anak perempuan adalah hal yang sungguh ajaib dalam hidup gue. Seperti halnya bermain boneka di waktu kecil, Raheesa ibarat boneka yang harus gue jaga dan lindungi dan gue rawat sebaik mungkin. Kehadiran Raheesa bikin hidup gue lebih lengkap dan gue gak pengen memiliki boneka berwujud apapun lagi di dunia ini.


Sebulan yang lalu gue sama adik laki-laki gue ngajakin Raheesa jalan-jalan ke Mall, masuk ke Toys Kingdom Raheesa mulai bingung memilih mainan. Raheesa juga suka boneka, ia antusias banget dengan boneka bayi berambut pirang yang lucu-lucu. Kebetulan adik gue mau beliin Raheesa mainan jadilah gue yang paling antusias ingin memilih yang mana yang hendak di beli. Gue ingat Barbie, boneka yang ingin gue miliki di waktu kecil, kalo dulu gue hanya bisa bermimpi ingin punya boneka Barbie, kali ini biarlah Raheesa yang merasakan bahagia memiliki Barbie.

Akhirnya pilihan tertuju pada Barbie hitam manis berambut coklat ini, jadilah ini Barbie pertama yang dimiliki Raheesa.


Pulang ke Bangka kemaren, di lemari nenek banyak boneka unyu ini, memang udah disiapin buat cucu tercinta katanya. 



Gue sepertinya yang paling antusias, melihat boneka yang lucu dan imut ini keinginan gue untuk membuat baju-bajuan dari daster bekas pun menggebu-gebu, gunting- menggunting, jahit-menjahit pun gue lakonin sampai jam 2 pagi, alhasil suami hanya bisa geleng-geleng kepala. Untung suami gak bilang #pusingpalabarbie hehehe...

Iyak.... gue masih demen main boneka #akumahgituorangnya.

"Seperti kebanyakan boneka Barbie, senyumnya selalu mengisyaratkan kepada kita bahwa dia bahagia, maka tersenyumlah dengan sendirinya bahagia akan tercipta".

Sekian quote dari gue.