Tuesday, 21 April 2015

Nenek Dengan Sejuta Kenangan Dan Cerita

Di moment hari Kartini ini gue pengen nulis spesial tentang nenek gue. Hari ini 3 hari sudah nenek berpulang ke sisi Allah, sedih banget pagi Minggu yang cerah gue dapet telpon dari sepupu yang ngabarin kalo nenek udah nggak ada lagi. Nenek udah beberapa tahun ini sakit kondisinya kadang membaik kadang ngedrop, sakitnya udah macem-macem mulai dari gondok mata, maag, jantung dan darah tinggi, udah segala macem pengobatan di jalanin sampe akhirnya nenek menyerah dan ikhlas pada takdir, minggu pagi yang cerah dihadapan sebagian anak-anaknya nenek menghembuskan nafas terakhir dengan menyisakan kelembutan di wajahnya.




Gue nggak bisa melihat  nenek untuk yang terakhir kalinya, gue dapet tiket pesawat jam 15.50 sedangkan ba'da ashar nenek udah dikebumikan. Keesokan harinya gue baru bisa nyekar ke kuburan nenek. Sedih banget tahun baru kemaren pas pulang liburan gue masih ketemu dan nenek sempet minta dipotoin bareng Raheesa cicitnya namun kali ini gue pulang yang gue temuin hanya tanah kuburannya.


Dalam sejarah hidup gue nenek banyak banget jasanya sama gue. Katanya gue adalah cucu kesayangan nenek, mungkin karena gue cucu pertama jadi kenangan gue bersama nenek lebih banyak dibanding cucu lainnya. Gue masih inget dulu waktu kecil gue sering diajak nenek pargi ke kampung halamannya nginep dirumah saudaranya yang tinggal di kampung. Nenek sering masakin makanan kesukaan gue, setiap lebaran yang nggak bakal dilupain adalah lontong kuah sayur khas nenek banget. Naggak ada yang bisa nandingin rasa kuah lontong sayur bikinan nenek bahkan anak-anak nya pun nggak bisa masak yang sama persis rasanya seperti nenek. Lebaran kali ini sayangnya udah nggak bisa lagi makan lontong kuah sayur bikinan nenek, dan lebaran ini bakal beda banget rasanya tanpa nenek.

Nenek adalah seorang Single Parent yang sangat tangguh di usia muda ia sudah ditinggal suaminya meninggal dunia dengan anak yang banyak dan masih kecil-kecil. Seorang diri nenek menghidupi 7 orang anaknya sampai besar dan mampu berdiri sendiri. Walaupun dulu hidup dengan kondisi yang pas-pasan namun nenek cukup berhasil mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai hidup yang sangat baik bahkan nilai-nilai hidup ini juga diajarkan kepada cucu-cucunya. Nenek selalu mengajarkan agar selalu akur dan rukun sesama saudara, dan yang paling gue inget nenek emang paling cerewet sama gue kalo gue telat mandi pagi.

Sekarang nenek udah pergi dengan tenang, meninggalkan kami dengan sejuta kenangan dan cerita, baik itu cerita sedih ataupun senang nenek selalu ada mendampingi kami dengan ikhlas dan sabar. Selamat jalan nenek tersayang semoga Allah mengampuni segala dosa, semua amal ibadah nenek diterima disisi Allah dan ditempatkan di Syurga terindah. Tunggu hantaran doa dari anak-anak dan cucu-cucumu. Kami semua merindukanmu.

Karena sesungguhnya

Begitu kita dilahirkan, kita berjalan selangkah demi selangkah menuju kematian. 



Thursday, 16 April 2015

Why Do I Love Kdrama

Banyak yang nanya ke gue kenapa sih suka nonton Drama Korea? emang apa bagusnya, bagusan mana sama serial dari barat sana, dan seabrek pertanyaan dengan nada meremehkan lainnya  yang kadang bikin gue males ngejawab dan gue lebih memilih untuk diam ketimbang beradu argumen. Untungnya pertanyaan-pertanyaan itu bukan datang dari emak gue, karena emak gue sama halnya dengan gue pecinta drama korea sejati.

Beberapa alasan kenapa gue jadi Kdrama addict dan lebih memilih Drama Korea sebagai daftar tontonan paling atas  tontonan favorit gue.

Gue suka Aktor dan Aktris Korea
Siapa sih yang nggak terbius dengan ketampanan dan kecantikan para Aktor dan Aktris dalam Drama Korea? sebut saja Rain Bi, Lee Min Hoo, Kang Ji Hwan, Park Seo Joon dan sederet nama beken lainnya. Bukan berarti aktor dan aktris dari indonesia nggak ada yang gue suka ya, gue masih menempatkan Nicholas Saputra dalam lubuk hati gue yang terdalam dan Dian Sastro sebagai inspirasi gue sedangkan yang aktris gue suka banget sama Song Hye kyo, Eun Hye dan Jang Nara. 

Gue suka ide cerita dalam Drama Korea
Yang suka Drama Korea pasti sepakat sama gue mengenai hal ini, kebanyakan ide cerita dalam Drama Korea yang gue tonton nggak pernah gue lihat di Sinetron Indonesia (nggak ada maksud ngebandingin ya). Sepertinya ide cerita dalam Drama Korea kadang diluar dugaan kita seperti serial My Heart From Another Star, masa iya sih ada alien yang hidup ratusan tahun bisa jatuh cinta sama seorang artis yang notabene nya manusia biasa, terus ada juga serial Blood yang bercerita tentang seorang vampire yang juga jatuh cinta sama seorang Dokter, atau yang masih ingat Drama Faith nya Lee Min Hoo, yang juga bercerita tentang seorang Dokter bedah yang bisa melewati lorong waktu. Kalau dipikir emang nggak masuk akal bisa-bisaan Writer nya lah mengkhayal dan menjadikan ide cerita, tapi nggak bisa dipungkiri gue suka genre Drama Korea yang seperti ini dan gue bisa terima ketidakmungkinan itu. Selain genre fantasi sepertinya gue suka semua genre Drama Korea apalagi yang romance comedy seperti Drama Witch Romance. Dari sekian banyak drama yang gue tonton walaupun kadang ending nya nggak seperti apa yang di harapkan, seperti drama Endless Love drama korea pertama yang gue tonton dimana endingnya berakhir sangat memilukan ditutup dengan kesedihan karena kematian dua tokoh sentralnya Eun Seuh dan Yoon Jun Suh, namun banyak banget kok drama korea favorit gue yang berakhir happy ending seperti  drama Lie To Me, Goong, Full House, Personal Taste, My Fair Lady, Pinocchio, Healer, My lovely girl  dan sederet judul keren lainnya. Selain yang gue tulis diatas gue juga suka Drama Korea saeguk yang ceritanya didasarkan pada sejarah seperti Dae Jang Geum misalnya.

Gue suka plot dan alur Drama Korea
Udah lumrah dan biasa kali ya kalau di sinetron-sinetron alur ceritanya berkisah tentang anak orang kaya yang jatuh cinta dengan anak pembantu atau kisah ibu tiri yang ingin menguasai harta kekayaan bahkan yang paling sering di jumpai adalah cerita rebutan suami atau pacar, begitupun di Drama Korea alur cerita seperti ini sering banget di jumpai di setiap drama, tapi yang bikin beda alur cerita di Drama Korea dan sinetron kita menurut pandangan gue adalah kalo di Drama Korea alur cerita biasa seperti itu bisa dikemas lebih menarik dan apik contohnya sederhana aja, misalnya cerita tentang orang paling kaya di Korea seperti di Boys Before Flowers disitu ditunjukin mulai dari hal-hal kecil dan faktor-faktor apa yang ikut menunjang dan menunjukkan kalo mereka benar-benar kaya seperti rumah tempat tinggal, mobil, dan  usaha yang digelutin. Begitupun tokoh antagonis di Drama Korea nggak perlu ngebentak dengan omongan kasar cukup dengan dialog yang santai tapi menikam udah cukup memperjelas kalau dia tokoh antagonis dalam drama tersebut.

Gue suka OST dalam Drama Korea
Sepertinya para Composer dan tim produksi sebuah drama di Korea sana sangat pintar ya dalam mengcombinasi antara drama dan original soundtracknya, yang gue temuin sepanjang sejarah gue nonton Drama Korea rata-rata ost nya sangat maching dengan drama tersebut, seperti ost drama Endless Love yang berjudul Reason, gimana nggak nangis bombay nonton dramanya yang sedih itu lha wong ost nya terdengar pilu sekali. Tapi yang paling gue suka adalah instrumen yang berjudul Paradiso dari drama Full House, dan sampe sekarang gue belum bisa move on dari semua original soundtrack drama It's Oke That's love yang semuanya catchy banget menurut gue.

Gue suka pesan moral dalam Drama Korea
Setiap selesai namatin Drama Korea gue kadang suka gagal move on, galau karena nggak puas sama ending ceritanya atau dilema karena endingnya terlalu bikin gue bahagia sehingga berniat untuk mengulang lagi dari episode pertama. Ada semacam kepuasan batin kalo abis nonton Drama Korea (bagian ini mungkin sedikit lebay) tapi ini beneran gue suka ngambil hikmah dari setiap cerita, sepertinya setiap habis nonton Drama Korea banyak hal baru yang gue dapet, seperti ketika gue nonton Drama Emergency Couple yang bergenre romance dan medical, setelah nonton drama itu gue jadi tau beberapa istilah dalam ilmu kedokteran, begitupun dalam drama My Lovely Girl yang menyelipkan sedikit cerita tentang industri musik di Korea. Tapi yang paling sering gue temuin di Drama Korea adalah teman masa kecil = jodoh di masa depan. Selain pesan moral yang gue dapet gue juga suka kutipan-kutipan yang ada di Drama Korea, contoh ini kutipan favorit gue dalam Drama Pinocchio.
“Sebuah kebenaran terjebak dalam dinding kebohongan mungkin terlihat damai seperti air yang tenang, tapi tanpa ada yang menyadarinya. Kebenaran itu akan menemukan celah terkecil di dinding dan akan keluar menuju dunia. Dan pada akhirnya dinding itu akan runtuh dan kebenaran mengalir keluar ke dunia.” (Choi Dal Po)

Gue suka scene-scene romantis dalam Drama Korea
Nggak bisa dipungkiri adegan romantis adalah saat-saat yang ditunggu saat nonton Drama Korea, nggak melulu harus adegan ciuman ataupun adegan hot di ranjang, berbagai potongan scene romantis dalam Drama Korea itu nggak monoton seperti di sinetron-sinetron, contohnya yang selalu gue temui di Sinetron Indonesia adegan lagi jalan trus ketabrak cowok ganteng, lalu bukunya jatoh dan sama-sama mungutin itu buku sambil pandang-pandangan abis itu  sadar trus berantem dengan dialog standar "loe buta nggak punya mata ya? atau bla...bla... bla.... . Scene romantis dalam Drama Korea yang gue temui kebanyakan sangat manis dan nggak pernah gue temuin di sinetron kita misalnya scene saat Lee Min Ho ngeringin rambut Son Ye Jin dalam drama Personal Taste.



Scene makan roti Lee Jong Suk dan Park Shin Hye di Drama Pinocchio.


Salah satu scene favorit gue ketika  Lee Min Ho melihat Park Shin Hye yang sedang tidur di The Heirs.


Scene romantis dalam drama Fated To Love You di episode terakhir.


Scene yang sepertinya setiap orang suka ya, basah-basahan seperti dalam adegan drama It's Oke That's Love ini.



Salah satu adegan yang gue suka di Drama Lie To Me, dan gue sempet berkhayal dulunya waktu masih pacaran duduk di bangku berdua sambil ngeliat bunga sakura berguguran, sayangnya hal itu nggak pernah kesampaian dan nggak ada bunga sakura juga di kampung gue.



Mau yang lebih romantis? nih adegan pandang-pandangan antara gue sama bang healer hihihi... tapi sayangnya adegan ini nggak pernah ada di drama, di sensor kali editor nya sentimen sama gue! .



Itu sebagian alasan kenapa gue suka banget sama Drama Korea, kalo ditulis secara detil bisa panjang banget kali, bagi yang nggak berminat atau belum pernah nonton Drama Korea coba deh sekali-sekali bersahabat dengan remote DVD nya kali aja jadi demen atau kalo emang nggak demen berarti memang kita nggak pernah sehati, dan kesukaan seseorang memang nggak bisa di paksakan. Masa gue mau maksain elo yang tadi nya demen nonton GGS jadi nonton Sensory Couple? ya sudahlah... gue sudah cukup  berbahagia dengan nonton Drama Korea sebagai pelipur lara dikala sedih dan obat anti badmood yang paling mujarab, diluar sana gue sudah menemukan teman-teman yang senasib dengan gue. Dan Kami bahagia dengan KEGILAAN ini!!



Saturday, 11 April 2015

Ngomongin Tentang Masa Depan


Seperti kebanyakan anak pada umumnya, waktu kecil kalo ditanya gue pengen jadi apa dengan sigap gue menjawab jadi Guru, kemudian seiring berjalannya waktu gue pernah berkeinginan menjadi Dokter, Pramugari, Polwan dan Penyiar Radio. Diantara semua keinginan yang pernah gue ucapin yang terakhir yang terealisasi dan jadi kenyataan.  Menjadi penyiar radio adalah cita-cita gue waktu masih duduk di bangku SMA gara-gara sering nongkrong di salah satu stasiun radio di deket sekolahan gue akhirnya terbersit keinginan agar dikenal lewat udara, dan pada masa itu profesi Penyiar Radio adalah profesi yang paling keren *itu menurut gue loh?.

Kini semenjak gue menikah dan resmi menjadi mantan Penyiar Radio gue agak sedikit menyesali keputusan gue dulu. Mulai dari tamat SMP, ketika gue bimbang memilih antara masuk SMU atau SMEA, gue sebenarnya pengen masuk SMU dan ngambil jurusan IPA atau Bahasa namun akhirnya gue terjebak dalam lingkungan yang bukan maunya gue. Karena nggak mengikuti kata hati gue akhirnya memilih masuk SMEA dan ngambil jurusan sekretaris. Begitupun ketika tamat SMEA dan masuk ke dunia perkuliahan, gue pengen banget kuliah dan ngambil jurusan Sastra namun lagi-lagi gue salah jalan dan terperangkap dalam jurusan Manajemen Informatika, begitupun akhirnya di dunia kerja lagi-lagi nggak nyambung dengan basic gue, tapi gue cukup berbangga hati bisa bekerja dalam dunia Broadcasting.

Mengenai berapa banyak salary yang dihasilkan dari bekerja sebagai pengorbit suara sepertinya sangat jauh dibandingkan profesi-profesi lainnya, apalagi itu radio milik swasta. tapi gak etis lah kalo gue sebutin disini ya... syukur alhamdulillah masih cukup buat nyicil motor tiap bulan. Gue selalu salut dengan orang-orang yang konsisten  dengan pekerjaannya, pekerjaan yang dilakoni selama bertahun-tahun dengan penuh keyakinan, meski jatuh bangun, maju mundur tapi tetap berpegang teguh pada prinsip. Gue contohin gak jauh-jauh orang tua gue sendiri, orang tua gue notabene nya adalah pedagang dan ibu gue memulai bisnis makanannya dari sejak gue SD, bisa dibilang dari bisnis itulah sampai gue dan adik gue bisa mengenyam pendidikan sampe bangku kuliah. Sudah belasan tahun meski kadang bosan dan jenuh namun ibu gue masih terus melkakoni pekerjaannya sampai sekarang. Dan yang bikin gue salut ibu gue pernah ngomong begini "rezeki kemaren, hari ini dan besok itu tentu berbeda, jadi walaupun kemarin dapet banyak dan hari ini sedikit berarti emang hanya segini yang dikasih Allah, jadi bersyukur aja". itu kata-kata penyemangat yang ampuh ketika dagangan lagi sepi atau tak habis terjual.

Gue masih jauh dari kata sukses, pencapaian gue baru sebatas itu, gue belum menjadi siapa-siapa yang patut di banggakan. Mungkin gue agak sedikit terlambat, bila dibandingkan dengan teman-teman gue yang sudah duluan sukses. tapi gue selalu mencoba mensyukuri semua pencapaian gue sampai detik ini. Kalo dulu dengan banyaknya cita-cita yang gue sebutin sampai salah satu nya jadi kenyataan, gak ada salahnya mungkin kalo bercita-cita lagi pengen jadi apa dan sukses dalam bidang apa. Akhir-akhir ini terlintas dalam pikiran gue pengen jadi Desainer, mungkin gue bisa kursus menjahit dan beli mesin jahit. Lalu terlintas juga gue pengen jadi seorang Chef dan yang terakhir gue pengen jadi Pengerajin Furniture. Wah... begitu banyaknya keinginan yang belakangan ini terlintas dalam benak gue, apa mungkin gue bisa mewujudkan salah satu nya. Akh... apa yang nggak mungkin di dunia ini kalo ada niat semoga ada jalan mewujudkan salah satunya.

Di era yang serba sulit ini emang kita dituntut untuk pinter-pinter membaca situasi dan sigap dalam mengambil kesempatan. Tuntutan hidup semakin hari semakin tingi gue sering bertanya-tanya didalam hati sebenernya profesi apa yang bisa menghasilkan pendapatan yang banyak, dalam artian menghasilkan uang yang cepat bukan ngidupin tuyul atau jin iprit ya, catet!. Dalam konteks pekerjaan yang punya prospek masa depan yang bagus. Gue agak sedikit khawatir nasib dan masa depan anak gue nanti nya, ketika ia mulai beranjak dewasa ketika ia dituntut agar bisa berdiri sendiri, profesi apa yang pas untuk anak gue lakoni agar bisa mencukupi kebutuhannya dan mendapat predikat "Orang Sukses". Sebagai orang tua gue pengen anak gue bisa lebih baik dibanding gue dulunya. Kalo dulu gue cuma bisa jadi Penyiar Radio mungkin next time anak gue bisa jadi Direktur atau pemilik stasiun radio, kalo dulu gue cuma kuliah cuma sampe D3 anak gue semoga bisa sampe S3 dan yang pasti gue pengen anak gue selalu survive dan gak berputus asa.

Gue selalu senang punya kesempatan ngobrol bareng suami tentang masa depan, dan gue paling antusias kalau di ajak berkhayal. Suami ingin si kecil Raheesa jadi Atlit Bulu Tangkis, sedangkan gue pengen Raheesa bisa jadi Dokter, lalu kenapa nggak jadi Atlit Bulu Tangkis yang berprofesi sebagai Dokter juga ya, mungkin itu ide yang bagus. Si kecil Raheesa baru berumur 2 tahun, kalo dilihat dari sekarang Raheesa suka nyanyi, hmmm... apa jadi penyanyi aja seperti Raisa ya?? tapi gue gak mau anak gue jadi Entertainer gue berharap Raheesa bisa sukses di bidang akademis dan berhasil menjadi apa yang dicita-citakannya nanti. PR gue dan suami sebagai orang tua cukup banyak ya, mulai sekarang gue harus menyiapkan masa depan yang baik untuk si kecil Raheesa, mulai dari biaya pendidikan dan pemilihan sekolah serta lingkungan yang baik untuk tempat belajarnya nanti. Gue nggak mau anak gue menyesal di kemudian hari, semoga nanti ia bisa memilih apa yang menjadi keinginannya.