Sunday, 31 October 2010

Apaan yak??

Baca salah satu komen temen saya di FB. Dia bilang, hidup saya gak pernah bahagia, tiap hari selalu mengeluh???

Ahhh..... benarkah demikian???

Saya bahagia kok.... sangat bahagia...., tapi terkadang emang keluhan-keluhan saya melewati batas normal. Mungkin mereka baca di status-status saya atau tulisan-tulisan saya di blog yang mana keluhan saya itu terkadang sangat menakjubkan, mungkin dari situ mereka menilai hidup saya tidak pernah bahagia.

Oke, saya jelasin disini, gak segitunya juga sebenarnya, cuma demi meningkatkan efek dramatisasi aja. Sebenarnya apa yang saya tulis itu gak sepenuhnya berisi keluhan saya.... meskipun ngeluh, saya masih bisa kok bersyukur

Terus ada lagi teman saya bilang saya sengaja menempatkan diri saya di pinggir jurang. Ahhhh ... keterlaluan teman saya hiperbolanya.

Gak ngerti juga maksudnya apaan? Saya ngerasa fine aja, ngikutin arus hidup saya. Ahh.... mungkin tanpa saya sadari apa yang saya lakukan itu terlalu mengancam jiwa saya, orang-orang terdekat saya lah yang merasa khawatir.

Ada lagi yang bilang, saya perlu di rukiyah, hehehehe seberantakan itukah hidup saya sekarang??

Saya kok belom menyadari ya?? Saya masih merasa yang saya jalanin itu masih wajar karena saya ngikutin kata hati...., atau emang otak saya yang udah gak beres, gak bisa bedain.

Kalau di pikir-pikir lagi...., napa yak manusia suka tantangan? Ada lagi tuh temen yang laen bilang.... saya terlalu berani mengambil resiko, menggali lubang kubur sendiri.

Nah... apa lagi ini??? Makin bingung aja sama istilah-istilah teman-teman saya.

Memang sih, hidup datar-datar aja tuh gak asyik, musti ada sensasi biar gress gitu...

Saya jadi mikir..... maksudnya apaaan yak?

Sensasi yang gimana yak?? hmmmm....

Bosaaaaaaan...hidup yang datar..!!! Besok mau nyoba terjun payung tidak pakai parasut ahhh... Biar hidup lebih menantang!

Sampai Batas Lelahku

Apa artinya aku, yang selalu setia berada di belakangmu, meski sesekali hanya kau lihat aku dengan ujung matamu.

Benar, hatiku bukan persinggahan, tapi jika itu yang kau anggap. tak apalah...
yang aku ingin katakan, aku selalu punya waktu yang ingin kuberikan untukmu dan aku ingin selalu memberi tanpa harap untuk berbalas.

Karena yang aku punya hanya hati yang besar, yang mampu menampung semua suka duka kehidupan kita yang sombong.

kamu tak pernah tau, setiap malam yang sama, dalam malam-malam tanpa daya juga dalam kesepian tak hentinya aku mencari bayang, menggores bingkai wajahmu, mencoba melukis bagian yang kusuka, menghitung setiap detik yang berdetak, dengan semua kehampaan yang kau tinggalkan untukku.

aku ingin bertanya mengapa, tapi kuyakin jawabanmu akan tetap sama, keyakinan-keyakinan yang selalu membuatku lemah dan kembali percaya.

Bahkan ketika hati ini kau buat sedih pun, masih saja aku berharap ada sedikit kesempatan untuk memberi arti tentang kasih dan pengharapan di balik perbedaan yang teramat purba ini

Dalam rasa yang kian tak tenang inipun aku tak pernah ragu untuk menghapus berjuta rasa gelisah yang kau tinggalkan pada jejak kita.

Karena aku tetap akan menunggu sampai batas lelahku.

Friday, 22 October 2010

Ketika cinta memberikan pilihan yang sulit



Oke, kali ini judul postingan saya agak berat, tentang cinta. Udah lama gak update, siang ini ditengah cuaca kota yang panas menyengat, saya ingin mengajak anda semua masuk ke dunia lain. Dunia cinta.... yang kata orang-orang dunia yang tanpa batas, dunia yang bisa membuat orang berubah dari sedih menjadi senang, dari murung menjadi ceria, ato bahkan sebaliknya.

Monday, 18 October 2010

Puanassss...

Tadinya aku pengen nulis, pengen cerita. Tapi posisiku sekarang tidak mengasyikkan. intinya sekarang aku sedang berada di kantor, siap-siap mengudara dengan kondisi tubuh penuh peluh dan keringat.

Argghhhhh..... AC kantor mati, serasa di dalam oven dengan suhu 180 derajat celcius. okey... sebenernya nggak segitu juga, tapi beneran dech, cuaca belakangan ini sering bikin bingung, ekstrim dan sering menipu. kadang hujan, kadang panas, kadang hujan panas. Gak jelas.

Friday, 15 October 2010

Raga saya nyaman.... saya ingin tidur.

Cuaca panas, terik matahari siang ini, serasa menusuk dan membuat kulit perih. Saya dari lantai 2 studio berhadapan dengan monitor berdebu mencoba mengguratkan isi hati lewat sebuah tulisan, sambil sesekali menoleh ke luar jendela mengalihkan rasa kantuk melihat hiruk pikuk yang terjadi di luar sana.

Alhamdulillah.... hingga hari ini Allah masih meniupkan ruh pada raga saya, masih mengizinkan saya menikmati suasana siang di kota kelahiran tercinta ini. Meski studio panas, 1 AC kantor dan 2 kipas angin rusak parah akibat tangan-tangan ganas penghuni kantor, dan memang sepertinya kipas angin tersebut bakal berakhir di gudang tanpa ada satupun penghuni kantor yang berinisiatif untuk memperbaiki atau mengantar ke tukang service.

Saya terus mengentakkan tangan saya di tuts-tuts keyboard komputer yang penuh dengan abu rokok, tampaknya memang tak ada yang mengindahkan kalau di studio ini dilarang keras untuk merokok, ahh... memang aturan dibuat untuk dilanggar, apapun itu saya tak perduli, raga saya cukup nyaman siang ini.

Semoga hari ini dan hari-hari berikutnya senantiasa menjadi pembelajaran berharga untuk terus saya syukuri.

PS: di tulis dengan tingkat kesadaran yang tinggi, saking tenangnya jiwa saya, jadi malas merangkai kata-kata lagi, pengennya tidur aja, ngantukkkk... (sambil merancang niat busuk menyelinap tidur ke ruang Recording)

Thursday, 14 October 2010

Maafkan... saya



Beberapa hari ini, mungkin saya membuat anda marah. Sebenarnya bukan keinginan saya, maaf sekali. Saya hanya ingin membuat suasana seperti dulu, seperti sebelum kita membuat komitmen, ke masa dimana kita menjadi sahabat. Yahhh, jika ini adalah keinginan anda, maaf sekali saya hanya bisa berujar begitu... sampai sebatas mana anda membenci saya, sampai batas itu juga saya berusaha membuat anda bisa memaafkan saya.

Saturday, 9 October 2010

Kembali....



Setelah mendapat protes yang bertubi-tubi yang cukup menghujam hati saya, dini hari tadi sebelum subuh, ketika saya dengar suara ayah saya membangunkan saya untuk sejenak menghadap Sang Pencipta, saya mengambil keputusan untuk mengakhiri ini semua, saya merasa perjuangan saya sudah berakhir, apa yang saya inginkan sudah saya dapatkan, langkah saya sudah benar mengembalikan dia dan menempatkan dia pada posisinya yang sebenarnya, seperti yang saya inginkan agar dia kembali kepada orang yang memang berhak atas dirinya.

Orang-orang terdekat saya, mengatakan saya berubah menjadi orang yang berbeda karena dia. Setidaknya itulah yang dikatakan sepupu saya tadi malam. Tidak yakin dengan perubahan yang saya alami, saya buka kembali tulisan-tulisan yang saya tulis di blog, juga status-status yang saya buat di facebook. Benar.... benar sekali, seperti bukan diri saya, terlalu banyak yang berubah. Memang saya sering mengeluh, terkadang saya sendiripun bosan setengah mati dengan keluhan-keluhan saya. Tapi ini bukan diri saya, si pengecut yang hanya bisa misuh-misuh, meratapi nasib. Itu bukan saya! bukan Tary yang tak bisa menukar kesedihan dengan keceriaan. Karena saya dulu ribuan hari sebelum saya di hari ini, adalah saya manusia yang tak kenal sepi, tak kenal kata menyerah, tak pernah mengeluh, tak punya tatapan kosong atau lamunan panjang yang sia-sia seperti kemarin.

Saya minta maaf, kemarin saya memang sedang berada dalam titik jenuh, berada dalam fase krisis. krisis kepercayaan, krisis semangat dan krisis fokus. selama berminggu-minggu saya terjebak dalam hal-hal yang tidak pasti. Bahkan saya merasa sudah sangat kebangetan banget menjalani ini, hingga saya berubah menjadi orang yang beda, hilang kepekaan dan terlihat sangat kejam. yahhh.... saya tak boleh egois, demi kebahagiaan saya, saya berubah menjadi diri orang lain yang saya pun tak mengenalinya.

Mulai saat ini, saya akan belajar, belajar memaafkan diri saya sendiri, belajar menepati janji pada diri sendiri dan belajar untuk membahagiakan diri sendiri.

Pagi ini saya akan kembali, kembali ke diri saya yang sesungguhnya, kembali ke studio saya yang dingin, kembali dengan lagu-lagu saya yang ceria, kembali menghadapi internet, kembali menghadapi serial Korea, dan kembali masuk Gramedia dengan setumpuk nonfiksi.

PS: saya lupa, hampir gak ada budget buat masuk Gramedia bulan ini, syukurlah dapet Buku La Tahzan dari Pakdhe Cholik Guantenggg dan buku dari Gede Prama, salah satu obat untuk mengilangkan kesedihan. terima kasih semua.... untuk asupan spiritnya yang nggak ada bosen-bosennya baca keluhan-keluhan dan cerita basi saya di blog ini.

Friday, 8 October 2010

Thursday, 7 October 2010

Cinta hanyalah sebongkah es



Banyak orang bilang cinta tidak harus memiliki, tapi pendapat saya mencintai tanpa bisa memiliki sama dengan percuma, dan hal ini adalah omong kosong. Sentimentil memang, dan inilah yang saya alami sekarang. Hingga sulit rasanya untuk mengambil keputusan maju terus dengan resiko sakit yang lebih besar atau mundur kalah dengan senyum lapang dada. Argghhhh….. tidak terbayangkan dua-duanya akan sangat menyakitkan bagi saya. Saya butuh waktu untuk berpikir…..

Sunday, 3 October 2010

Lagu terakhir



“ Aku berhenti berharap…dan menunggu datang gelap…sampai nanti suatu saat…tak ada cinta ku dapat “

Ini adalah lagu terakhir menutup jam on air saya malam ini, sekaligus lagu terakhir yang masih mampu membuat saya ikut bersenandung lantang.

Lelah, letih, sedih, kecewa… semua perasaan ini tumpah ruah jadi satu. Sama pilunya dengan lagu yang baru saja saya putar. ”Berhenti berharap”, salah satu Best Collection-nya Sheila on 7.

Ya…saya sudah berhenti berharap.

Friday, 1 October 2010

Melupakan...



Bersama dengan dirinya, ternyata tak bisa menghilangkan kesedihan di hati saya. Entah kenapa.. sepertinya perpisahan terlihat tampak jelas di mata saya.

Berharap selamanya ingin tetap tinggal di hatinya. tapi perasaan untuk berlari pergi juga tak kalah hebatnya. ahhh.... saya sangat takut sebenarnya. takut akan kehilangan... takut akan semua hal yang bisa membuat saya terluka.