Tuesday, 15 December 2009

punk not dead

Jauh diseberang sana, pekat malam yang menyelimuti Jakarta, seolah tak pernah mati oleh orang-orang yang mencurahkan energy mereka di lautan moshpit. Disalah satu sudut kota Jakarta, ratusan orang yang mengklaim diri mereka sebagai punkers tampak memadati gig scene punk. Mereka bergembira ria dengan lantunan musik underground, celana kulit dan jacket kulit menjadi andalan mereka, dengan rambut bergaya spike atau Mohawk, Body piercing, rantai dan gelang spike menjadi salah satu yang wajib di kenakan dan tak lupa, selain boots tinggi, para Punkers juga biasa menggunakan sneakers dari Converse. Gaya para punkers tersebut maka tak salah jika ada ungkapan PUNK NOT DEAD.!!.

Dak…bru….gedubrak…hegh lagu yang tak bias didengarkan tengah tersaji disebuah lapangan yang tak begitu luas. Sekerumunan laki-laki berambut gondrong yang memainkan musik ber riffing sangar dan dentuman drum hiperblasting dengan vocal-vocal growl menyuarakan sederetan lirik caci maki, sumpah serapah lengkap dengan aksesoris seram dan berkostum hitam. Dari sore para pemuda dengan dandanan ala punk mulai berdatangan memadati lapangan itu. Setelah lepas Is’ya, musik keras mulai menggedor gendang telinga. Lagu yang dinyanyikan berbahasa inggris, memang keras dan menghentak. Para punkers yang ada di depan panggung sama sekali tak ada yang diam, mereka bergerak secara brutal kesana kemari. Lagu yang berisi sindiran supaya melakukan perubahan seolah semakin bernyawa.


gelap langit Jakarta semakin pekat tapi tak ada tanda-tanda para punkers akan pulang, bau minuman yang menyengat seolah-olah membuat suasana semakin hidup. Setiap kali ada penyelenggaraan konser punk minuman keras sepertinya hal yang biasa, dicegah bagaimanapun akan ada saja yang bawa. Meskipun minuman keras identik dengan anak punk, namun nggak semua anak punk adalah peminum. Ada yang menganggap dengan minum mereka serasa saudara, satu botol untuk beberapa orang.

Ini pengalaman pertama aku melihat kehidupan yang tak pernah bisa aku jumpai di tempat tinggalku. ini acara musik anak punk yang aku lihat dengan jelas bagaimana mereka menumpahkan segala ekspresi meraka di dalam musik.

2 hari lalu, ajakan laki-laki diujung sana membawa kakiku menuju ibu kota ini, yah laki-laki yang setelah sekian tahun aku kenal dari suaranya. Laki-laki itu adalah Nara, laki-laki bermata elang yang sudah 9 tahun ini menghabiskan hidupnya di jalanan. banyak hal yang aku ketahui dari dia tentang kehidupannya hingga saat ini, padahal hubungan kami selama ini hanya lewat telepon. hingga tepatnya 2 hari lalu, aku memutuskan untuk menemuinya setelah 5 tahun saling mengenal di dunia maya.

banyak hal yang ingin aku ketahui tentang Nara, bukan karena jiwa jurnalistik ku, melainkan ada sesuatu hal yang menarik dalam kehidupannya. hal-hal menarik yang membuat ia tampak indah di mataku, meskipun ia hanya seorang punk jalanan yang sering di cap sampah oleh masyarakat.

dan saat ini, aku mengetahui banyak tentang kehidupannya...tentang kesehariannya juga tentang kehidupan percintaannya. ternyata di luar penampilannya yang sangar, cuek dan lusuh itu ia menyimpan banyak sekali cita-cita, dan itulah mengapa aku sangat terkesan dengan laki-laki ini.

sebagai orang yang dibilang " buta tentang punk " aku sangat tertarik dengan punk. aku lihat di dalam punk ada kebebasan yang dipertanggung jawabkan, walaupun aku nggak survive jadi street punk beneran.meskipun Nara nggak identik dengan style punk, tapi jiwanya punk idealis, dia bahkan rela mati untuk idealisnya.

9 tahun hidup di jalanan, tentunya sudah banyak sekali suka duka yang dialami Nara, aku ingat sekali Nara pernah mengatakan kalau keluarganya sendiri juga tidak bisa menerima kehadiran gembel punk, untuk mengenal idealis itu sendiri nara harus kehilangan Ayahnya. makanya Nara terus berusaha dan membuktikan kalo dia bisa keep on struggle in this fuckin life.

Nara pernah mengatakan untuk jadi punk dalam arti sesungguhnya itu cukup berat dan banyak rintangannya, pasalnya punk memang lepas dari keteraturan, bebas dari pengekangan, anti kemapanan, punk sejati memegang teguh idealisme, tau ujung pangkal, luar dan dalam kenapa mereka milih jadi seorang punkers. Theres no heaven for an idealist, but who ares? I like my way and I live in my own heaven that called punk…

0 komentar:

Post a Comment