Friday, 11 December 2009

Menimbang-nimbang Cinta

Hitung-hitungan bukan hanya penting dilakukan dalam berbisnis, melainkan juga dalam percintaan. Eits, jangan dulu merasa bersalah karena Anda terkesan tak tulus memberi cinta. Pasalnya, terlalu banyak memberi cinta bisa membuat Anda kehabisan tenaga dan jatuh terpuruk karena kelelahan.

Beda Gaya Bercinta
“Semua orang yang sedang jatuh cinta pasti punya keinginan untuk memberi kepada pasangannya,” kata Roslina Verauli, M.Psi, yang biasa disapa Vera, psikolog dari RS Pondok Indah, Jakarta. Menurutnya, sesuai dengan pola hubungan “take and give”, biasanya pasangan pun akan bersedia melakukan hal serupa untuknya. Tapi bagaimana bila keinginan untuk memberi itu datangnya hanya dari di Anda?

Pertama-tama, Vera menyarankan untuk jangan dulu terbawa emosi. Tidak memberikan ekspresi cinta yang serupa dengan yang kita berikan kepadanya bukan berarti si dia tidak mencintai Anda. Soalnya, menurut Vera, setiap orang punya gaya mengekspresikan cinta yang berbeda-beda. “Misalnya, tidak semua orang beranggapan bahwa menelepon kekasihnya sehari tiga kali untuk bertanya sudah makan atau belum adalah ungkapan rasa cinta yang ideal. Bisa jadi dia malah merasa kesal dan terganggu karenanya,” ujar Vera.

Hanya Ada Dia dan Dia
Lantas, bagaimana cara menilai apakah cinta yang kita berikan kepadanya sudah proporsional atau malah berat sebelah? Tanda-tandanya, menurut Vera, bisa diamati dengan cara bertanya kepada diri Anda sendiri. Apakah Anda merasa nyaman menjalani hubungan saat ini? Apakah Anda merasa terlalu sering mengorbankan diri demi menjaga perasaan kekasih Anda? Apakah pasangan Anda cukup sering melakukan sesuatu untuk membuat Anda senang, atau membuktikan bahwa dia mencintai Anda?

Salah satu ciri yang tampak dalam suatu hubungan yang tidak seimbang adalah Anda sedikit demi sedikit merasa seolah kehilangan jati diri. “Anda kehilangan waktu untuk hangout dengan para sahabat, hubungan dengan keluarga perlahan-lahan mulai terasa renggang, dan Anda merasa tidak punya waktu lagi untuk diri sendiri. Ibaratnya, orang yang ikut andil dalam hubungan asmara tersebut hanyalah dia dan dia. Diri Anda seolah terhapus karena tidak dianggap keberadaannya,” kata Vera.

Takut Tidak Dicintai
Mengapa hal itu sampai bisa terjadi? Menurut Vera, hubungan cinta yang berat sebelah biasanya dialami oleh mereka yang punya pengalaman buruk di masa lalu. Misalnya, mereka yang tidak mendapatkan cukup kasih sayang dari orangtuanya di masa kecil atau pernah punya hubungan cinta yang agak traumatik.

“Berpijak dari pengalaman buruk itu, mereka jadi merasa bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan cinta dari orang lain adalah dengan memberikan segala-galanya kepada orang tersebut. Dia merasa cemas luar biasa kalau-kalau pasangannya akan pergi apabila dia tidak mencintainya secara habis-habisan,” ujar Vera.

Jika itu yang terjadi, maka bukannya hubungan cinta yang sehat dan saling membahagiakan yang akan Anda dapatkan. Sebagai gantinya, sedikit demi sedikit rasa percaya diri Anda akan terkikis habis dan Anda kehilangan identitas diri. “Dengan kadar self esteem yang rendah, pada akhirnya Anda akan menjadi terlalu tergantung pada pasangan. Anda jadi tak mampu membuat keputusan menyangkut kehidupan sendiri tanpa mendapat persetujuan darinya terlebih dahulu,” ujar Vera.

Bercermin
Untuk bisa mengatasinya, pertama-tama kenali dulu apa penyebab Anda rela melakukan apa saja demi pasangan. “Kenali kecemasan apa yang Anda rasakan bisa Anda sampai kehilangan cinta pasangan. Anda mesti belajar mencintai dengan cara berbeda dan berhenti melakukan langkah antisipasi negatif. Maksudnya, bila hubungan Anda dengan dia saat ini masih baik-baik saja, maka tak perlu cemas kalau-kalau Anda berdua nantinya putus,” tutur Vera.

Salah satu cara untuk menjaga supaya kadar cinta Anda seimbang dengan apa yang diberikan pasangan adalah dengan melakukan strategi “mirroring” atau “bercermin”. “Sebanyak apa hal-hal yang diberikan pasangan kepada Anda, maka sebesar itu pula batasan Anda bisa memberikan sesuatu kepada dirinya. Jika Anda ingin memberi dan mendapatkan yang lebih, maka bicarakanlah hal itu dengan pasangan,” kata Vera.

Yang perlu diingat, cinta itu adalah perkara selera. Bisa diibaratkan dengan ada orang yang menyukai bunga mawar berwarna putih, tapi ada pula yang tergila-gila pada mawar pink atau kuning. Tidak mendapatkan cinta dari seorang pria bukan berarti Anda adalah produk gagal yang tak layak mendapat cinta. Percaya deh, ada pria di luar sana yang mau dan mampu memberikan cinta sebanyak yang Anda inginkan. (Nayu Novita/CHIC)

0 komentar:

Post a Comment