Tuesday, 24 June 2008

antropologi cerpen 2 : Layu,,,

Aku wanita lajang, 39 tahun. Diusiaku yang sekarang ini seharusnya aku sudah memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan yang sudah beranjak remaja, itu kata nenekku setiap kali ia bertanya kapan aku akan menikah. Aku tak muda lagi, bahkan bias dibilang aku gadis tua, Tapi aku tak menghiraukan suara-suara sumbang yang berceloteh tentang aku, aku sangat menikmati hidupku, aku wanita karir, bias dibilang, karirku sedang bagus saat ini, aku bahkan bias menghidupi kedua orang tuaku dan menyekolahkan sepupu-sepupuku. Dari selesai kuliah tekadku memang ingin bekerja sebaik-baiknya. Aku tak pernah merasa tak puas untuk hidup yang aku jalani saat ini, ada ataupun tiada seorang pria di sampingku, aku bahkan tak memusingkan hal itu, semua yang aku jalani dan miliki sekarang ini hanya untuk membahagiakan keluargaku. aku pikir jodoh bias datang kapan saja, dan bila sekarang aku masih belum menikah itu berarti aku memang belum menemukan jodoh untuk diriku.
Ini sebenarnya bukanlah hal yang aku inginkan, di saat ini pun ada orang yang mau mengajak ku menikah, bukannya aku tak mau atau memilih. Namun aku memang benar-benar harus berpikir secara matang untuk memulai suatu hubungan. Hal ini memang ada kaitannya dengan kesalahan di masa laluku. Dulu aku pernah menjalin suatu hubungan yang serius dengan seorang pria, namanya Arnold saat itu usiaku 22 tahun, selama 7 tahun aku mengenalnya, banyak hal yang sudah kami rasakan sama-sama, segala kekurangan dan kelebihan masing-masing bukan lagi menjadi hal yang serius untuk kami persoalkan, namun pada saat itu, kami belum pernah sekalipun bicara tentang pernikahan, tapi aku sangat yakin sekali kalau kami adalah jodoh dan bias menjalani hidup bersama sampai tua. Karena pada saat itu kami sama-sama masih kuliah dan rasanya belum siap untuk berumah tangga sebelum memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Dan saat itu bias dibilang kami sangat menikmati hubungan itu. Memasuki tahun ke 7 usia pacaran kami tiba-tiba rasa jenuh muncul di hatiku, kami sering bertengkar karena hal-hal yang sepele. Dan itu bukan alas an utama yang aku rasakan semua berawal ketika tanpa sengaja aku bertemu dengan Romy seseorang dari masa laluku, dia adalah teman SMA ku. saat masih SMA aku memendam satu perasaan yang special terhadapnya, namun saat itu aku tak pernah berani untuk mengatakannya. Sampai pada saat kami bertemu untuk yang pertama kalinya selama 5 tahun tak bertemu. Dan dari pertemuan itulah kami sama-sama mengungkapkan perasaan yang telah lama tak bias aku ungkapkan. Dari situlah hatiku mulai gelisah, hatiku telah mendua, dan cintaku benar-benar telah terbagi. Hari-hariku diliputi rasa bersalah dan emosi yang meledak-ledak, makin hari perasaan ku terhadap Arnold semakin hilang sampai pada akhirnya aku dan Arnold memutuskan untuk berpisah karena sama-sama merasa tak bias lagi memperbaiki hubungan kami. Aku merasa bersalah dan berdosa sekali, bahkan Arnold tak tau kalau aku telah selingkuh di belakangnya, sampai saat ini pun Arnold tak pernah tau apa kesalahannya sampai aku meminta putus darinya. Aku sangat kejam, itulah yang dikatakan teman karibku atas keputusanku. Kini aku lega, aku piker aku bias dengan leluasa menjalin hubungan tanpa sembunyi-sembunyi lagi dengan Romy, tapi ternyata aku salah, Romy tak pernah ingin ada satu komitmen, Romy memang bilang suka padaku dan mau jadi pacarku, tapi dia tak pernah siap ada ikatan, awalnya aku mau saja menjalin hubungan dengan Romy meski tanpa komitmen. Bias dibilang kami bertemu di saat-saat membutuhkan saja. Awalnya aku bias, tapi akhirnya aku tak pernah bias menghadapi hubungan yang seperti ini, aku mulai merasa jenuh dan letih sendiri. Aku merasa hanya aku yang membutuhkan Romy sedangkan dia tak pernah membutuhkan aku. Aku bertemu dengannnya dan mengajaknya bicara tentang hubungan kami, tapi setiap kali ada kesempatan bicara, semua persoalan ini tak pernah terselesaikan bahkan semakin memperburuk keadaan, aku tau Romy tak menjalin hubungan dengan wanita manapun selain aku, namun satu hal yang tak bias ditinggalkan Romy, ia tak pernah mau kehilangan moment-moment dengan teman-temannya, Romy lebih menomorsatukan teman-temannya dibandingkan aku. Awalnya aku bias memaklumi dan berusaha mencoba menjalani apa adanya seperti yang Romy mau, namun akhirnya aku letih dan bosan sendiri.belakangan aku baru tau, ternyata Romy adalah seorang pemakai, karena itulah ia tak pernah siap berkomitmen dengan wanita manapun. Aku bias menerima segala kekurangan Romy karena cinta telah membutakan mataku, aku berharap bias membawa Romy keluar dari kehidupan yang akan menghancurkan hidupnya. Namun ternyata itu hanya harapan semata, Romy tak pernah berubah, bahkan ia menuntut aku agar mengerti, memahami dan menerima kehidupannya yang seperti itu. Aku bosan, letih dan jenuh dengan keadaan ini, kuingat saat aku mengajaknya untuk bicara soal hubungan kita, aku tak tau apakah Romy dalam pengaruh zat-zat itu atau tidak, tapi yang jelas saat itu Romy memutuskan aku. Aku kacau dan stress, ternyata apa yang aku harapkan dari hubungan ini tak pernah berhasil dan terwujud. Aku ingat terakhir aku bertemu Romy saat aku memutuskan untuk pindah ke Jogjakarta. Dengan berbagai penyesalan akhirnya aku pergi, namun 2 minggu setelah itu aku masih berharap bias menjalani hubungan dengan Romy lagi, tapi ternyata semua benar-benar pupus, Romy tak bias meninggalkan kehidupan kelamnya untuk aku. Aku kecewa, sedih dan menyesal. Sekelabat kenangan dan peristiwa lalu bermunculan di memori kepalaku, aku sadar mungkin ini adalah karma atas apa yang telah aku lakukan pada Arnold, aku telah meningglkan seseorang yang setia kepadaku hanya untuk seorang lelaki yang tak menghargai cintaku.
8 bulan setelah aku pindah ke Jogja, aku menerima undangan dari Arnold, kini ia telah mempersunting seorang wanita yang mungkin 1000 kali lebih baik dari ku. Aku sedih dan terpuruk, ini langkah yang salah yang telah kutempuh. Hingga saat ini ketika usiaku hamper kepala 4, ada sedikit penyesalan dan trauma yang aku rasakan, aku menyesal karena tak bias setia dan menghargai orang yang telah tulus mencintaiku. Tapi peristiwa 4 bulan yang lalu sempat membuat aku hampir tergugah, aku kembali bertemu Romy untuk yang pertama kali setelah hamper 8 tahun tak bertemu, ia tak seperti dulu, banyak yang berubah dari dirinya. Dan yang terakhir aku tau ternyata Romy juga belum menikah. Kami bicara banyak hal dalam pertemuan itu, tentang masa lalu, sampai pada akhirnya Romy mengutarakan niatnya untuk mengajakku menikah. Aku mungkin harus berpikir ribuan kali untuk menerimanya. Hatiku benar-benar hancur dan Romy orang yang ikut andil dalam semua ini.

0 komentar:

Post a Comment