Thursday, 19 June 2008

antropologi cerpen 1 : Biyan

Kami memang menikah muda, saat masih duduk di bangku kuliah semester 3 kami sudah memutuskan untuk menikah, terlalu muda dan tanpa pemikiran yang matang, aku dan Biyan memutuskan untuk hidup bersama. Memang tak mudah meyakinkan dua keluarga kami atas keputusan kami itu, bahkan aku sempat di curigai sudah berbadan dua saat itu, tapi kami bersikeras aku tidak hamil, dan kami ingin menikah karena kami sama-sama saling mencintai, dan kami tak ingin terpisah lagi. lalu cinta mengalahkan segalanya.
Saat itu usia aku dan biyan sama-sama 19 tahun, perkenalan pertama kami memang di bangku kuliah, dari hubungan pertemanan akhirnya berlanjut menjadi hubungan yang special. Aku sangat menyukai Biyan begitupun sebaliknya, setiap hari kami bertemu, pagi, siang, malam dan 24 jam waktu Biyan hanya untukku.kami sangat dekat dan rasanya sulit untuk terpisahkan lagi, meskipun begitu hubungan kami masih sering diwarnai dengan pertengkaran-pertengkaran yang hebat, alasannya satu, kami sama-sama tak bias di cuekin. Aku bias mati bila sehari saja Biyan tak menelpon ku.
Satu hal yang membuat kami dekat dan saling merasakan kami berdua adalah belahan jiwa. Aku sudah tau semua kekurangan Biyan, dan sebaliknya juga Biyan tau semua kekuranganku. Entah apa yang membuat kami merasa cocok, aku tau dari awal kuliah Biyan adalah seorang pemakai, tapi sedikitpun tak mengurangi rasa cintaku, kupikir saat itu aku masih bias merubah Biyan dan mengajak nya berhenti menjadi seorang pecandu. Sampai kami memutuskan untuk menikah aku tau Biyan masih seorang pemakai, hingga malam pertama kami pun harus aku lalui dengan melihat Biyan sakaw.
Biyan berhenti kuliah tapi aku masih tetap melanjutkan kuliahku hingga selesai, Biyan juga tak memiliki pekerjaan, kami tinggal menumpang di rumah orang tuanya. Keluarga Biyan memang keluarga berada, ayahnya adalah salah seorang pejabat di kota kami. Dia hanya dua bersaudara, sedari kecil kehidupan Biyan tak pernah susah, apapun yang diinginkan nya pasti dengan mudah ia dapatkan, tapi aku harus bekerja, memang bukan untuk menanggung kehidupan aku dan Biyan, aku akui…selama tinggal dirumah orang tuanya, aku dan Biyan memang tak kekurangan satu apapun, tapi aku tak mau seperti itu, aku harus bekerja, karena aku masih mengharapkan ada yang berubah dari hidup kami.
3 tahun perkawinan, aku masih melihat Biyan seperti saat masih kuliah, aku masih melihat Biyan pulang dengan bau minuman cap tikus dan dengan mata yang merah karena mengkonsumsi racun setan yang apalah aku tak tau zat-zat apa yang di asupkan ke tubuhnya. 2 tahun belakangan ini Biyan memang sudah bekerja, itupun karena relasi ayahnya yang membantunya masuk di salah satu perusahaan terbesar di kota kami. Tapi yang aku tak mengerti semua penghasilan Biyan ia habiskan hanya untuk membeli racun-racun itu. Karena aku sayang Biyan, aku bahkan tak pernah mempertanyakan penghasilannya. Sampai anak lelaki pertama kami Diandra lahir, Biyan masih seperti itu.saat aku melahirkan Diandra pun Biyan tak ada di sampingku. namun aku masih saja bersabar dan tetap berharap Biyan berubah. sampai kini saat Diandra berusia 3 tahun, sedikit pun tak ada perubahan dalam diri Biyan selain tubuhnya yang semakin kurus karena pengaruh racun-racun itu.tapi aku masih melihat kasih sayang Biyan untuk Diandra, aku akui Biyan adalah ayah yang baik untuk Diandra, meski tak sesempurna ayah-ayah yang lain, perhatiannya untuk Diandra tak ada yang bisa menandinginya.
seperti malam ini, aku masih belum tertidur menunggu Biyan pulang, hal ini aku lakukan setiap malam hingga kini memasuki 4 tahun perkawinan kami. setiap malam Biyan pulang dengan mata merah dan dalam keadaan mabuk, kalaupun bukan mabuk karena minuman keras, Biyan mabuk karena pengaruh obat-obatan itu. tapi kali ini Biyan pulang dengan keadaan tak seperti biasanya, Biyan pulang dengan raga tak bernyawa lagi terbujur kaku dan bisu, tubuhnya biru dan dari mulutnya keluar busa, aku menjerit histeris, dan tiba-tiba saja mataku gelap.
saat aku terbangun aku masih mendengar ayat-ayat suci dilantunkan, kulihat semua orang berpakaian hitam, aku mencari-cari dimana Diandra, tapi aku tak menemukannya. mataku kembali gelap dan aku jatuh pingsan lagi.
terik matahari terasa menggigit kulitku, aku bahkan tak bisa lagi membendung tangisku, Biyan pergi dalam keadaan seperti itu, hari ini di perkuburan Biyan aku tak kuasa melihat jasadnya di masukkan ke liang lahat itu. tubuhku lemas tak berdaya, bagaimana aku menjalani hidupku tanpa Biyan, dan bagaimana aku bisa membesarkan Diandara tanpa sosok ayah di sampingnya. Biyan...mengapa ini harus terjadi padaku.
puasa kali ini, aku dan Diandra benar-benar sendiri, aku harus terbiasa tanpa Biyan di sisiku, dan Diandra harus terbiasa tak memeluk ayahnya. aku sedih dan rapuh, hidupku terasa hampa, tapi Diandra adalah pelipur segalanya, tawanya, senyumnya dan celotehannya adalah Biyan dan dimatanya aku tau, Biyan ada di sana.
aku tak pernah menyesali semua ini, kepergian Biyan mungkin adalah takdir yang telah ditentukan untuknya. aku tak pernah merasa menjadi wanita yang tak beruntung di dunia ini, mengenal Biyan, meski tak punya banyak waktu hidup bersamanya, adalah satu anugerah yang sangat berarti untukku, meskipun aku telah gagal membawa Biyan keluar dari kehidupan kelamnya, aku adalah wanita yang beruntung, karena Biyan masih meninggalkan satu kenangan yang berharga untukku, yang bisa menjadi penyemangat dalam kehidupanku, yah...Diandra.

0 komentar:

Post a Comment