Thursday, 26 June 2008

djarot masih dia yang dulu,,,,

gak tau berapa lama lagi gw harus menunggu untuk berani muncul didepan doi, gw rasanya udah gak punya kesempatan lagi untuk bilang kalo gw masih sayang dan pengen selalu di samping doi. dua minggu yang lalu, tepatnya gw gak tau pasti kapan peristiwa itu terjadi, tiba-tiba aja pikiran gila muncul di otak gw, gw udah gak bisa lagi ngebendung perasaan gw, gw ambil handphone dan ketik sms, gw bilang gw pengen balik lagi sama doi dan gw janji sanggup ngejalanin apa adanya seperti yang doi mau, tapi entah karena apa, kok doi gak mau reply sms gw, gw kecewa dan sakit hati, gw sedih mengapa doi bikin gw seperti ini. dari peristiwa itu, gw janji gak mau ngubungin doi lagai, tapi 1 minggu kemudian setelah peristiwa itu, gw masih penasaran dan pengen tau gimana doi saat itu, gw nekad telpon doi, gw mau tau doi angkat telp gw pa nggak, ternyata doi mau jawab telp gw, gw tanya kabar doi gimana, trus doi bilang, dia masiah sama seperti dulu, dari situ gw sadar dan tau, ternyata doi masih seperti 25 hari yang lalu, doi masih gak bisa lagi nerima gw, doi masih belum siap berkomitmen, doi masih pengen happy2 ma temen2 nya, doi masih suka makek dan doi masih gak bisa membagi waktu nya buat gw meskipun hanya sedikit, dan doi sekarang jadi males bales sms gw, dari situ doi tanya gw sekarang dimana, gw bilang gw di Bangka sekarang, awalnya gak percaya, tapi gw berusaha ngeyakinin gw ada disini sekarang. dari situ, gw tau doi mulai gak ramah sama gue, dan gue berjanji gak akan muncul selama waktu gw masih bisa membatasi diri supaya gak kangen doi lagi. gw harap gw bisa.

Tuesday, 24 June 2008

antropologi cerpen 2 : Layu,,,

Aku wanita lajang, 39 tahun. Diusiaku yang sekarang ini seharusnya aku sudah memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan yang sudah beranjak remaja, itu kata nenekku setiap kali ia bertanya kapan aku akan menikah. Aku tak muda lagi, bahkan bias dibilang aku gadis tua, Tapi aku tak menghiraukan suara-suara sumbang yang berceloteh tentang aku, aku sangat menikmati hidupku, aku wanita karir, bias dibilang, karirku sedang bagus saat ini, aku bahkan bias menghidupi kedua orang tuaku dan menyekolahkan sepupu-sepupuku. Dari selesai kuliah tekadku memang ingin bekerja sebaik-baiknya. Aku tak pernah merasa tak puas untuk hidup yang aku jalani saat ini, ada ataupun tiada seorang pria di sampingku, aku bahkan tak memusingkan hal itu, semua yang aku jalani dan miliki sekarang ini hanya untuk membahagiakan keluargaku. aku pikir jodoh bias datang kapan saja, dan bila sekarang aku masih belum menikah itu berarti aku memang belum menemukan jodoh untuk diriku.
Ini sebenarnya bukanlah hal yang aku inginkan, di saat ini pun ada orang yang mau mengajak ku menikah, bukannya aku tak mau atau memilih. Namun aku memang benar-benar harus berpikir secara matang untuk memulai suatu hubungan. Hal ini memang ada kaitannya dengan kesalahan di masa laluku. Dulu aku pernah menjalin suatu hubungan yang serius dengan seorang pria, namanya Arnold saat itu usiaku 22 tahun, selama 7 tahun aku mengenalnya, banyak hal yang sudah kami rasakan sama-sama, segala kekurangan dan kelebihan masing-masing bukan lagi menjadi hal yang serius untuk kami persoalkan, namun pada saat itu, kami belum pernah sekalipun bicara tentang pernikahan, tapi aku sangat yakin sekali kalau kami adalah jodoh dan bias menjalani hidup bersama sampai tua. Karena pada saat itu kami sama-sama masih kuliah dan rasanya belum siap untuk berumah tangga sebelum memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Dan saat itu bias dibilang kami sangat menikmati hubungan itu. Memasuki tahun ke 7 usia pacaran kami tiba-tiba rasa jenuh muncul di hatiku, kami sering bertengkar karena hal-hal yang sepele. Dan itu bukan alas an utama yang aku rasakan semua berawal ketika tanpa sengaja aku bertemu dengan Romy seseorang dari masa laluku, dia adalah teman SMA ku. saat masih SMA aku memendam satu perasaan yang special terhadapnya, namun saat itu aku tak pernah berani untuk mengatakannya. Sampai pada saat kami bertemu untuk yang pertama kalinya selama 5 tahun tak bertemu. Dan dari pertemuan itulah kami sama-sama mengungkapkan perasaan yang telah lama tak bias aku ungkapkan. Dari situlah hatiku mulai gelisah, hatiku telah mendua, dan cintaku benar-benar telah terbagi. Hari-hariku diliputi rasa bersalah dan emosi yang meledak-ledak, makin hari perasaan ku terhadap Arnold semakin hilang sampai pada akhirnya aku dan Arnold memutuskan untuk berpisah karena sama-sama merasa tak bias lagi memperbaiki hubungan kami. Aku merasa bersalah dan berdosa sekali, bahkan Arnold tak tau kalau aku telah selingkuh di belakangnya, sampai saat ini pun Arnold tak pernah tau apa kesalahannya sampai aku meminta putus darinya. Aku sangat kejam, itulah yang dikatakan teman karibku atas keputusanku. Kini aku lega, aku piker aku bias dengan leluasa menjalin hubungan tanpa sembunyi-sembunyi lagi dengan Romy, tapi ternyata aku salah, Romy tak pernah ingin ada satu komitmen, Romy memang bilang suka padaku dan mau jadi pacarku, tapi dia tak pernah siap ada ikatan, awalnya aku mau saja menjalin hubungan dengan Romy meski tanpa komitmen. Bias dibilang kami bertemu di saat-saat membutuhkan saja. Awalnya aku bias, tapi akhirnya aku tak pernah bias menghadapi hubungan yang seperti ini, aku mulai merasa jenuh dan letih sendiri. Aku merasa hanya aku yang membutuhkan Romy sedangkan dia tak pernah membutuhkan aku. Aku bertemu dengannnya dan mengajaknya bicara tentang hubungan kami, tapi setiap kali ada kesempatan bicara, semua persoalan ini tak pernah terselesaikan bahkan semakin memperburuk keadaan, aku tau Romy tak menjalin hubungan dengan wanita manapun selain aku, namun satu hal yang tak bias ditinggalkan Romy, ia tak pernah mau kehilangan moment-moment dengan teman-temannya, Romy lebih menomorsatukan teman-temannya dibandingkan aku. Awalnya aku bias memaklumi dan berusaha mencoba menjalani apa adanya seperti yang Romy mau, namun akhirnya aku letih dan bosan sendiri.belakangan aku baru tau, ternyata Romy adalah seorang pemakai, karena itulah ia tak pernah siap berkomitmen dengan wanita manapun. Aku bias menerima segala kekurangan Romy karena cinta telah membutakan mataku, aku berharap bias membawa Romy keluar dari kehidupan yang akan menghancurkan hidupnya. Namun ternyata itu hanya harapan semata, Romy tak pernah berubah, bahkan ia menuntut aku agar mengerti, memahami dan menerima kehidupannya yang seperti itu. Aku bosan, letih dan jenuh dengan keadaan ini, kuingat saat aku mengajaknya untuk bicara soal hubungan kita, aku tak tau apakah Romy dalam pengaruh zat-zat itu atau tidak, tapi yang jelas saat itu Romy memutuskan aku. Aku kacau dan stress, ternyata apa yang aku harapkan dari hubungan ini tak pernah berhasil dan terwujud. Aku ingat terakhir aku bertemu Romy saat aku memutuskan untuk pindah ke Jogjakarta. Dengan berbagai penyesalan akhirnya aku pergi, namun 2 minggu setelah itu aku masih berharap bias menjalani hubungan dengan Romy lagi, tapi ternyata semua benar-benar pupus, Romy tak bias meninggalkan kehidupan kelamnya untuk aku. Aku kecewa, sedih dan menyesal. Sekelabat kenangan dan peristiwa lalu bermunculan di memori kepalaku, aku sadar mungkin ini adalah karma atas apa yang telah aku lakukan pada Arnold, aku telah meningglkan seseorang yang setia kepadaku hanya untuk seorang lelaki yang tak menghargai cintaku.
8 bulan setelah aku pindah ke Jogja, aku menerima undangan dari Arnold, kini ia telah mempersunting seorang wanita yang mungkin 1000 kali lebih baik dari ku. Aku sedih dan terpuruk, ini langkah yang salah yang telah kutempuh. Hingga saat ini ketika usiaku hamper kepala 4, ada sedikit penyesalan dan trauma yang aku rasakan, aku menyesal karena tak bias setia dan menghargai orang yang telah tulus mencintaiku. Tapi peristiwa 4 bulan yang lalu sempat membuat aku hampir tergugah, aku kembali bertemu Romy untuk yang pertama kali setelah hamper 8 tahun tak bertemu, ia tak seperti dulu, banyak yang berubah dari dirinya. Dan yang terakhir aku tau ternyata Romy juga belum menikah. Kami bicara banyak hal dalam pertemuan itu, tentang masa lalu, sampai pada akhirnya Romy mengutarakan niatnya untuk mengajakku menikah. Aku mungkin harus berpikir ribuan kali untuk menerimanya. Hatiku benar-benar hancur dan Romy orang yang ikut andil dalam semua ini.

Thursday, 19 June 2008

antropologi cerpen 1 : Biyan

Kami memang menikah muda, saat masih duduk di bangku kuliah semester 3 kami sudah memutuskan untuk menikah, terlalu muda dan tanpa pemikiran yang matang, aku dan Biyan memutuskan untuk hidup bersama. Memang tak mudah meyakinkan dua keluarga kami atas keputusan kami itu, bahkan aku sempat di curigai sudah berbadan dua saat itu, tapi kami bersikeras aku tidak hamil, dan kami ingin menikah karena kami sama-sama saling mencintai, dan kami tak ingin terpisah lagi. lalu cinta mengalahkan segalanya.
Saat itu usia aku dan biyan sama-sama 19 tahun, perkenalan pertama kami memang di bangku kuliah, dari hubungan pertemanan akhirnya berlanjut menjadi hubungan yang special. Aku sangat menyukai Biyan begitupun sebaliknya, setiap hari kami bertemu, pagi, siang, malam dan 24 jam waktu Biyan hanya untukku.kami sangat dekat dan rasanya sulit untuk terpisahkan lagi, meskipun begitu hubungan kami masih sering diwarnai dengan pertengkaran-pertengkaran yang hebat, alasannya satu, kami sama-sama tak bias di cuekin. Aku bias mati bila sehari saja Biyan tak menelpon ku.
Satu hal yang membuat kami dekat dan saling merasakan kami berdua adalah belahan jiwa. Aku sudah tau semua kekurangan Biyan, dan sebaliknya juga Biyan tau semua kekuranganku. Entah apa yang membuat kami merasa cocok, aku tau dari awal kuliah Biyan adalah seorang pemakai, tapi sedikitpun tak mengurangi rasa cintaku, kupikir saat itu aku masih bias merubah Biyan dan mengajak nya berhenti menjadi seorang pecandu. Sampai kami memutuskan untuk menikah aku tau Biyan masih seorang pemakai, hingga malam pertama kami pun harus aku lalui dengan melihat Biyan sakaw.
Biyan berhenti kuliah tapi aku masih tetap melanjutkan kuliahku hingga selesai, Biyan juga tak memiliki pekerjaan, kami tinggal menumpang di rumah orang tuanya. Keluarga Biyan memang keluarga berada, ayahnya adalah salah seorang pejabat di kota kami. Dia hanya dua bersaudara, sedari kecil kehidupan Biyan tak pernah susah, apapun yang diinginkan nya pasti dengan mudah ia dapatkan, tapi aku harus bekerja, memang bukan untuk menanggung kehidupan aku dan Biyan, aku akui…selama tinggal dirumah orang tuanya, aku dan Biyan memang tak kekurangan satu apapun, tapi aku tak mau seperti itu, aku harus bekerja, karena aku masih mengharapkan ada yang berubah dari hidup kami.
3 tahun perkawinan, aku masih melihat Biyan seperti saat masih kuliah, aku masih melihat Biyan pulang dengan bau minuman cap tikus dan dengan mata yang merah karena mengkonsumsi racun setan yang apalah aku tak tau zat-zat apa yang di asupkan ke tubuhnya. 2 tahun belakangan ini Biyan memang sudah bekerja, itupun karena relasi ayahnya yang membantunya masuk di salah satu perusahaan terbesar di kota kami. Tapi yang aku tak mengerti semua penghasilan Biyan ia habiskan hanya untuk membeli racun-racun itu. Karena aku sayang Biyan, aku bahkan tak pernah mempertanyakan penghasilannya. Sampai anak lelaki pertama kami Diandra lahir, Biyan masih seperti itu.saat aku melahirkan Diandra pun Biyan tak ada di sampingku. namun aku masih saja bersabar dan tetap berharap Biyan berubah. sampai kini saat Diandra berusia 3 tahun, sedikit pun tak ada perubahan dalam diri Biyan selain tubuhnya yang semakin kurus karena pengaruh racun-racun itu.tapi aku masih melihat kasih sayang Biyan untuk Diandra, aku akui Biyan adalah ayah yang baik untuk Diandra, meski tak sesempurna ayah-ayah yang lain, perhatiannya untuk Diandra tak ada yang bisa menandinginya.
seperti malam ini, aku masih belum tertidur menunggu Biyan pulang, hal ini aku lakukan setiap malam hingga kini memasuki 4 tahun perkawinan kami. setiap malam Biyan pulang dengan mata merah dan dalam keadaan mabuk, kalaupun bukan mabuk karena minuman keras, Biyan mabuk karena pengaruh obat-obatan itu. tapi kali ini Biyan pulang dengan keadaan tak seperti biasanya, Biyan pulang dengan raga tak bernyawa lagi terbujur kaku dan bisu, tubuhnya biru dan dari mulutnya keluar busa, aku menjerit histeris, dan tiba-tiba saja mataku gelap.
saat aku terbangun aku masih mendengar ayat-ayat suci dilantunkan, kulihat semua orang berpakaian hitam, aku mencari-cari dimana Diandra, tapi aku tak menemukannya. mataku kembali gelap dan aku jatuh pingsan lagi.
terik matahari terasa menggigit kulitku, aku bahkan tak bisa lagi membendung tangisku, Biyan pergi dalam keadaan seperti itu, hari ini di perkuburan Biyan aku tak kuasa melihat jasadnya di masukkan ke liang lahat itu. tubuhku lemas tak berdaya, bagaimana aku menjalani hidupku tanpa Biyan, dan bagaimana aku bisa membesarkan Diandara tanpa sosok ayah di sampingnya. Biyan...mengapa ini harus terjadi padaku.
puasa kali ini, aku dan Diandra benar-benar sendiri, aku harus terbiasa tanpa Biyan di sisiku, dan Diandra harus terbiasa tak memeluk ayahnya. aku sedih dan rapuh, hidupku terasa hampa, tapi Diandra adalah pelipur segalanya, tawanya, senyumnya dan celotehannya adalah Biyan dan dimatanya aku tau, Biyan ada di sana.
aku tak pernah menyesali semua ini, kepergian Biyan mungkin adalah takdir yang telah ditentukan untuknya. aku tak pernah merasa menjadi wanita yang tak beruntung di dunia ini, mengenal Biyan, meski tak punya banyak waktu hidup bersamanya, adalah satu anugerah yang sangat berarti untukku, meskipun aku telah gagal membawa Biyan keluar dari kehidupan kelamnya, aku adalah wanita yang beruntung, karena Biyan masih meninggalkan satu kenangan yang berharga untukku, yang bisa menjadi penyemangat dalam kehidupanku, yah...Diandra.

daun setan

jauh atau dekat, sama aja. doi bahkan bener-bener gak menghargai perasaan gue. gue tau sekarang memang doi dalam keadaan sakit, bukan sakit karena apa, doi sakit karena gak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya, pengaruh daun setan itu udah membuat doi gak punya rasa, doi tiba-tiba jadi kaku dan gak bisa merasakan hal-hal yang menyakitkan sekalipun. tubuh dan otak doi udah udah penuh dengan asap tebal dari daun setan itu. doi benar-benar udah jadi seorang yang gak berguna buat dirinya sendiri, gue sadar gue gak akan bisa bahagia bertahan mengharapkan doi berubah. doi lebih berat meninggalkan daun setan itu dibandingkan kehidupan normal seperti temen2 nya yang udah pada insyaf. kapan doi bisa sadar dan berubah,,,gak tau??? hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Friday, 13 June 2008

biyan

Aku telah memulai semua keresahan ini jauh sebelum dia datang, 5 tahun yang lalu saat masih duduk di bangku kuliah, aku sudah memendam suatu rasa yang tak bias aku ungkapkan. Biyan…satu nama yang mampu membuat tubuhku lemas dan bergetar hebat. Entah mengapa setiap menyebut namanya mampu membuatku lemah tak berdaya. Dan kini setelah 5 tahun berlalu Biyan datang lagi dan memberi aku berjuta harapan yang bias membuat aku mati karena impian itu.
Memang tak mudah melepaskan semua, namun kedatangan Biyan kali ini sungguh membuat aku dilema, aku sudah memiliki seseorang yang sudah bertahun-tahun ini mengisi hatiku, namun di balik itu semua aku menyadari seberapa besar pun cinta yang masuk ke dalam hatiku, tetap ada sedikit celah untuk Biyan. Aku benci keadaan ini, mengapa Biyan harus datang sekarang, mengapa Biyan selalu membuat aku tenggelam dan sulit untuk bangkit.
Aku tau tak seharusnya aku bilang suka, saat itu. Tapi entah mengapa tiba-tiba muncul keberanian yang membawa aku pada Biyan malam itu. Semua berawal tanpa sengaja seminggu yang lalu aku dan biyan bertemu dan ini untuk yang pertama kalinya setelah kami selesai kuliah. Wajar saja, rasa rindu sudah tak bias aku bendung dalam diriku, pertemuan kami kali ini benar-benar membawa aku pada satu lembaran kisah lama yang seharusnya sudah aku tutup rapat dan tak seharusnya aku buka lagi. Berawal dari situlah hingga terjadi peristiwa ini, sampai aku berani mengatakan pada Biyan kalau aku sudah dari sejak lama menyukainya. Dan tanpa aku duga ternyata Biyan membalas semua rasa suka ku. Aku telah mengkhianati seseorang yang begitu mencintaiku, andra…entah bagaimana nanti aku menghadapinya jika dia tau kalau aku mengkhianatinya.

Wednesday, 11 June 2008

blog tentang dia, ini yang terakhir....

sekiranya ada yang mengerti dan bisa memahami perasaan gue saat ini, gue benar2 sedih dan tersiksa dengan perasaan ini.ini mungkin awal yang menyakitkan buat gue karena gue harus memulai hari2 gue tanpa dia, istilahnya gue harus mulai melupakan dia, dan ini adalah akhir buat gue untuk menulis posting tentang dia di blog ini. seperti novel2 pada umumnya meskipun serial dan ini adalah endingnya, mungkin ini adalah edisi terakhir dari cerita gue dan dia. gue akan berusaha menghindari dia, dalam setiap langkah gue, sampai batas waktu Tuhan mengizinkan gue untuk bertemu dia lagi. gue ikhlas dengan apa yang terjadi, toh cinta gak bisa dipaksakan, bila akhirnya cerita gue dan dia, harus berakhir seperti ini,mungkin inilah yang terbaik buat kita.dan inilah saatnya gue menutup semua kesedihan dan luka ini, gue harus tegar dan nerima kenyataan, gue harus bahagia, gue harus happy, gue harus tersenyum dan gue harus semangat lebih dari segala rasa saat gue tau dia juga mau jadi pacar gue. gue harus memulai hidup gue lebih baik lagi, selamat tinggal semua kenangan dan cerita sedih. selamat tinggal dia.....yang tetap ada di hati gue, gue akan mengubur semua kenangan itu, dan tetap membiarkan dia hidup dalam hati gue. itu aja....

Friday, 6 June 2008

inilah hidup, gue harus menjalaninya

kemarin (5/6) adalah awal dan babak baru dalam hidup gue, semua berjalan seiring dan inilah kenyataan, gue harus menjalaninya. tanggal 1 Juni 2008 gue di putusin doi, sakit memang, tapi ini udah terjadi gue gak bisa lagi berharap dan memohon doi untuk balik dan ada untuk gue lagi. meskipun doi bilang ini adalah putus sementara hanya buat kita supaya bisa instropeksi diri, tapi tetep aja, gue sakit dan rasanya gak bisa nerima kenyataan. sekarang jalan yang terbaik buat hidup gue adalah melupakan semua tentang doi, doi memang hanya bisa jadi teman gue, dan ini kesalahan gue dari awal, berharap bisa merubah status dari teman menjadi kekasih, namun ternyata gue salah. kemarin di saat gue berusaha melupakan doi, eh pas jam 9 pagi gue ketemu doi lagi pas doi mau kerja, alhasil gue gak bisa nahan diri buat sms doi, tapi apa yang gue dapetin, ternyata doi sedikit pun gak berubah, tetep aja sepertinya hanya gue yang butuh doi, sedangkan doi sedikit pun gak butuh gue. mungkin hari ini adalah hari terakhir gue sms doi, dan gue harap gue bisa melepas doi dari hati gue. atau mungkin gue yang gak bisa ngerti doi, doi memang begitu, doi cuek, gak peduli dan memang gak bisa menunjukkan doi butuh seseorang, doi memang dingin dan mungkin gue yang harus banyak ngalah biar bisa jalan bareng doi lagi, tapi mengapa gue yang merasa sakit. gue harus berhenti dan memulai diri gue dengan hal yang baru dan gue rasa menyakitkan ini. tapi inilah hidup dan kenyataannya.
hal terbesar yang terjadi pada juni ini adalah, gue dan keluarga harus benar2 memulai hidup kami dari awal, kemarin kami udah meniggalkan rumah yang kami tempati dari kami lahir, sedih dan rasa gak rela masih aja gue rasa dalam diri gue dan gue lihat nyokap juga gitu, tapi yang terakhir harapan gue, gue harap ini adalah babak baru yang baik buat gue dan keluarga, gue gak pengen lagi ada masalah yang bisa menyakiti dan membuat sedih keluarga gue. hidup harus berjalan dan gue harus menerima kenyataan ini.

Tuesday, 3 June 2008

Monday, 2 June 2008

ternyata ini benar2 berakhir,,,

gue patah hati,,,gue sakit hati,,,gue kecewa,,,gue pengen marah,,,gue pengen nangis,,,teriak dan jerit2.gue terluka, gue sedih dan gue kembali terpuruk untuk kesekian kalinya, ini tak pernah gue harapkan dalam hubungan ini, gue masih sayang,,,gue masih suka,,,gue masih kangen doi dan terus berharap doi ada untuk gue,,,
ini semua yang ada dalam hati gue, emosi, kangen, cinta semua bercampur aduk jadi satu. semua salah gue, selalu salah gue,,,gue yang memulai namun tak bisa gue akhiri.
masih tentang hati dan rasa, apa yang terjadi semalam, mungkin yang terbaik untuk gue dan doi, doi ngerasa gue gak kerasan menjalani hubungan yang katanya "harus dijalani dengan apa adanya" namun ternyata gue gak bisa sampai akhirnya doi memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita sampai disini aja, dan gue kembali sadar gue gak bisa maksa doi untuk menjalani hubungan yang normal seperto kebanyakan orang, namun doi sempat bingung waktu gue bilang hubungan yang dijalani sekarang adalah tanpa status, semua yang udah terjadi sekarang harus gue jalani saat ini, meskipun gue harus terpuruk sepanjang malam2 berikutnya. namun inilah yang terbaik doi memang ngasih waktu gue untuk berhenti dan keluar dari semua persoalan ini, namun jika gue ingin kembali doi selalu bilang ini hanya untuk sementara, gue sedih,,,doi bilang gak bisa buat gue senang dan yaahhh semualah yang bisa bikin gue fun doi gak bisa mewujudkannya, namun gue harus sadar waktu doi selalu hanya untuk teman2 nya, inilah akhir dari hubungan ini, gue selalu ngeluh dan stress menjalani ini, tapi inilah yang terbaik buat kita, semua hilang begitu aja, yang tersisa hanya semua kenangan tentang doi yang gak akan bisa gue buang sepanjang hidup gue. namun satu hal yang membuka mata dan hati gue, sepupu gue pernah ngomong seharusnya gue mempertahankan cinta gue yang sesungguhnya dan bukan mempertahankan selingkuhan gue, namun gue gak akan bisa menjalani itu gue tetap ingin doi bisa ada di dekat gue. Tuhan,,,gue pasrah dan ikhlas dengan semua yang terjadi pada hidup gue, apapun yang terjadi sekarang, mungkin ini jalan buat gue menuju kebahagiaan. doi gak akan bisa hilang dalam hati gue, seberapa pun besar cinta yang akan masuk, tetap ada sedikit celah untuk doi, satu harapan yang akan masih gue harapkan dalam hidup gue, suatu saat gue atau doi yang datang duluan untuk meminta agar cinta ini bisa dicoba dan diulang lagi, itu harapan gue.

Sunday, 1 June 2008

sepotong masalah di perjalanan menuju kedewasaan

seperti banyak orang bilang dan pada kenyataannya roda terus berputar, begitu juga kehidupan, inilah yang gue alami dalam proses menuju kedewasaan gue.
dari kecil bisa dibilang gue dan adik gue memiliki keluarga yang lengkap dan bahagia, apapun yang gue inginkan, meskipun hidup masih belum bisa dibilang cukup, tapi apapun yang gue dan adik gue inginkan pasti dikabulkan orang tua gue. seiring berjalannya waktu, apapun yang kami inginkan bisa tercapai sedikit demi sedikit, dan akhirnya kami tumbuh jadi manusia2 yang melengkapi satu sama lain. dalam kekurangannya, orang tua gue gak pengen gue dan adik gue gak memiliki apa yang kami inginkan.
sampai akhirnya kami merasa cukup, apa yang kami cita2 kan dapat terbeli, namun secepat itu pula semuanya hilang dan meninggalkan kami, sampai pada batas akhirnya semua keluarga gue merasa terpuruk dan bersalah. kejadian ini sudah cukup kami alami sekali saja dalam hidup, merasa kehilangan sesuatu yang kita sayangi, mudah2 an bisa membuat kami tabah dalam menjalani hidup kami, meskipun tak lagi memiliki hal yang terindah seperti yang kami miliki dulu, semoga kami menjadi manusia yang paling bersyukur di bumi ini, karena masih memiliki sesuatu yang berharga yaitu C I N T A,,,

rasa ini membunuh ku...

ini perasaan terberat dan tersulit yang gue rasa saat ini, lama-lama mungkin rasa ini bisa membunuh gue, perlahan namun tak pasti, gue masih saja menunggu satu kepastian yang gak kunjung2 datang. entah mengapa setiap menyebut namanya mampu membuat dunia gue hancur, dan perasaan gue jadi sedih. inilah rasa, gue gak mampu lagi membendungnya, ingin gue lupakan, namun tak mampu gue lakukan, gue masih terus berharap dan berjalan pada satu kenyataan yang mungkin saja pahit tapi bisa saja berubah jadi manis, tapi bisa juga sebaliknya, gue benar-benar hampir punah dan runtuh dengan rasa gue sendiri. gue tak ingin lagi memikul beban ini sendiri, rasa ini sungguh berat gue jalani. cinta ini makin lama semakin membuat gue terbunuh dan mati karenanya. satu nama yang harus bertanggung jawab atas semua ini, namun tak kuasa gue tuntut, karena apa yang gue jalani sekarang memang tanpa status, gue telah salah langkah dan terbuai angan2 hampa akan dirinya, gue benar2 khilaf memutuskan menerima dia masuk dalam hati gue.namun tak kuasa gue untuk mengusirnya, karena yang ada dalam hati gue malah semakin dalam mengharapkannya. gue belum juga terbangun dari mimpi kosong itu, gue masih saja berharap dalam impian2 lama yang kemarin hampir berhasil gue tepis, namun kini dia datang lagi dengan berbagai pertanyaan yang membuat gue rapuh lagi, gue akan semakin tersiksa karena tak bisa memilikinya, namun hanya waktu harapan gue yang bisa merubah segalanya, seiring waktu juga gue akan merasakan derita dan sakit ini, sepanjang malam-malam berikutnya gue masih akan tetap terpuruk karena mencintainya, tapi inilah gue, gue gak akan menyesali sakit ini, karena dalam sakit ini masih banyak tersimpan cinta dan sayang gue buat dia, karena dalam keterpurukan ini, masih banyak impian2 kosong lagi yang gue harap jadi nyata. hidup gue gak akan berakhir karena dia, gue benci dia dengan sepenuh hati gue, namun dengan sepenuh hati gue juga, gue akan mencintainya. rasa ini gak akan hilang begitu saja, butuh waktu lama untuk menghapus kenangannya dalam hati gue, gue akan kembali memulai dan meniti hari gue masih dengan impian2 konyol tentang dia, meski pun luka itu akan semakin dalam, gue masih akan terus menjalani dan mengulang kisah2 lama dulu, yang mungkin akan membuat gue semakin terpuruk.

Friday, 30 May 2008

b i m b a n g

lagi-lagi ini masih tentang perasaan yang ada dalam hati gue, mengapa semakin lama rasa ini semakin membawa gue pada satu titik jenuh yang bertubi-tubi, mengapa semua rasa suka dan cinta gue harus berubah menjadi suatu rasa yang menakutkan buat gue, ada banyak pertanyaan-pertanyaan konyol dalam hati gue tentang dia, dan yang semakin lama semakin membunuh gue adalah gejolak rasa yang ada dalam hati gue yang semakin lama gak bisa gue bendung namun tak mampu pula gue hapus dalam kehidupan gue, gue masih saja berkutat dengan perasaan dan impian konyol ini, gue masih saja memiliki harapan-harapan kosong yang bisa membawa gue pada titik kehancuran, namun inilah rasa, tak ada seorang pun yang mampu mencegahnya, bahkan gue sendiri. gue mulai rapuh dan merasa bosan dengan pilihan yang tersulit ini, dan gue tak ingin terjebak dalam rasa ini lagi.

Thursday, 29 May 2008

kejutan di awal malam, ketika gue mencoba melupakan



28/05, ini masih tentang semua hal yang gue rasa dalam hati gue, ketika gue mulai mencoba membiasakan diri untuk memulai hidup gue tanpa bayangan doi, tiba2 di awal malam yang gue rasa sepi, doi bertanya mengapa gue udah lama gak sms doi, lalu doi bertanya lagi apa gue risih melihat sikap doi yang seperti itu terus, tiba2 gue kaget dan gamang, hati gue udah terlanjur sepi dan berharap bisa melepaskan semua hal yang membuat gue letih, tapi tiba2 aja doi datang lagi dan bertanya seolah2 doi butuh gue, sekian banyak pertanyaan yang membuat gue bertanya-tanya apakah ada gue di hati doi, masih belum terjawab dan samar2 gue rasakan, namun dari itu semua jauh dalam hati gue, gue masih belum bisa melepaskan doi, namun demi hidup gue, karena gue gak mau terpuruk dan sedih lagi, apapun gue akan coba asalkan gue bisa bahagia meskipun ada dan tanpa doi. namun dalam sisi hati kecil gue yang terlalu banyak lukanya, gue masih bisa merasakan sedikit kebahagiaan, karena doi ternyata masih bertanya ketika gue gak ada.dan yang lebih membuat gue bahagia, doi masih punya keinginan ngajak gue jalan. itu aja, namun dari semua hal yang gue rasa, aneh dalam hati gue, lebih banyak merasakan luka. tapi apa yang udah terjadi semalam, kemarin, sebulan atau 3 bulan yang lalu gak akan pernah gue sesali, apapun yang ada semua hal tentang doi, gue sangat mensyukurinya. doi datang seperti sebuah kado terindah buat gue.

Wednesday, 28 May 2008

hubungan tanpa awal dan akhir,,,

ini semua tentang keresahan hati gue, menjalani suatu hubungan tanpa awal dan kini gue ngerasa hubungan ini pun akan pupus tanpa suatu akhir yang jelas, memang sulit menjadi gue, masih berharap ada suatu titik yang cerah dari hubungan ini, berharap masih ada sesuatu yang indah bakal tercipta dari hubungan ini, nyatanya hanya impian saja, bahkan gue tak mendengar lagi gaung tentang dia yang telah memporak porandakan struktur di hati gue.
gue bingung harus berhenti ataukah masih saja berkutat dengan perasaan yang tak jelas arahnya, tapi gue masih takut menghadapi hal-hal baru yang mungkin nanti akan membawa gue pada satu kenyataan pahit ataukah manis. gue masih saja berpijak pada satu peristiwa yang membawa gue pada satu perasaan terhebat yang tak bisa digantikan dengan apapun, namun ketika gue sadar gue makin rapuh dan terjatuh karena perasaan itu, kini saatnya gue bangkit dan menjalani hari-hari gue dengan kenyataan dan bukan dengan impian, kenyataan bahwa hubungan yang gue jalani sekarang memang tak akan ada hasilnya, seperti yang gue rasakan dari dulu hingga sekarang, gue lebih banyak merasakan berkorban, termasuk mengorbankan perasaan sampai akhirnya gue merasakan benar-benar letih dengan semua ini.
memang tak akan ada yang terbaik dari melupakan dia, hidup harus terus berjalan, seperti kemarin sebelum dia hadir dalam hidup gue, dan sekarang hidup masih terus akan berjalan meski tanpa dia.

Monday, 26 May 2008

hari, hidup, dunia & diri yang baru,,,,gw akan coba???


ini adalah awal untuk gw, memulai hal-hal yang sebagian gw rasa sangat sulit gw lakukan, tapi untuk hidup dan hari yang lebih baik, gw akan memulai semua ini dengan niat baik dan gw harap gw akan dapat sesuatu yang baik dari apa yang akan gw lakukan ini. poin2 yang akan gw lakukan antara lain:
1. lebih dekat lagi sama Tuhan
2. melakukan semua hal yang gue rasa gue mampu melakukannya (dalam hal positif untuk keluarga, pekerjaan dan tentunya diri gw sendiri)
3. lebih semangat menhadapi hidup, yang semakin hari semakin banyak tekanan
4. banyak2 infaq dan sedekah (biar rejeki lancar terus)
5. lebih sabar dan beusaha menahan emosi, menjaga hati, pikiran dan mulut dari hal2 yang buruk, juga tentunya disertai dengan prilaku.
6. lebih dewasa, baik dari pikiran dan perilaku
dan ini poin2 yang harus gw lakukan untuk urusan hati gw, terutama semua hal yang menyangkut doi.
1. berhenti memikirkan doi,
2. lebih sadar, doi bukan yang tepat untuk gw, karena akan banyak sekali perbedaan yang ada di antara kita berdua.
3. berhenti sms doi, dalam waktu lama yang gak bisa ditentukan, sampai batas waktu doi duluan yang sms ke gw.
4. berhenti punya keinginan nelpon, lewat rumah doi, dan berharap bisa bertemu doi di jalan.
5. berhenti berharap bisa jalan sama doi lagi.
6 dan yang terakhir 100% gw harus melupakan doi, sampai batas waktu doi yang datang ke gw duluan.

dan untuk diri gw, ini poin2 yang akan gw lakukan mulai besok pagi selasa 27 mei 2008
1. diet
2. berhenti mencet2 jerawat (kebiasaan buruk yang sering gw lakukan)
3. manjangin rambut, dan berhenti punya niat motongin rambut sampai batas waktu yang gak ditentukan.
ini point yang sementara akan gw lakukan, semoga gw bisa melalui hari2 yang sulit dan meresahkan bagi gw. semoga gw bisa, semangat?????

Tuesday, 20 May 2008

5 hari meresahkan yang akan menjadi awal untuk gue

malem terakhir gue sms doi, awalnya gue ragu mau kirim sms apa gak sama doi, tapi karena ipeh temen gue bilang sekarang mereka lagi nonton film di rumah doi, gue jadi kepikiran pengen sms doi, awalnya gue nanya doi lagi dimana, gak ada reply, trus gue sms lagi bilang Rot,,,,gak di reply juga, terakhir gue ngerasa bener2 patah hati sama doi, lalu gue sms, lagi bilang gak tau mungkin sekarang gue yang lagi gila, tapi entah kenapa, kok gue ngerasa sakit hati setiap doi gak bales sms gue, tetep aja gak ada reply dari doi, keesokan harinya,sore jumat gue jalan sama sepupu gue, pas didepan rumah adek temen gue, gue liat doi pulang kerja, gue tau doi juga lihat gue, walaupun gue gak tau dia tau apa gak sama gue, tapi gue sempet manggil doi, dari hari itu gak ada lagi kabar dari doi, gue pun berjanji gak bakalan ngubungin doi, kini 5 hari sudah gue ngejalanin hari yang meresahkan dan menyakitkan bagi gue, mungkin 1 bulan cukup bagi gue untuk belajar melepaskan doi dari pikiran gue, gue gak tau mungkin doi bosen atau ada sesuatu dari gue yang gak pas dimata doi, tapi bila doi ingin lepas dari gue, mungkin saat itu gue akan melepas doi dari hati gue.

Friday, 9 May 2008

jogja....jogja.....



tanggal 1 mei 08 gue ke jogja bareng keluarga gue, sebenernya dalam rangka wisudaan adek gue. seneng banget bisa ke jogja, dari dulu gue emang kengen pengen ke sana. sampe jogja tanggal 2 mei pagi harinya, langsung maen ke malioboro, muter2 sana nyari barang2 unik yang murah and gak ketinggalan nyobain kuliner jogja yang yummy abies.nginep di kost-kost an adek gue yang lumayan adem, didaerah kampus MSD. malem harinya gue telpTambah Gambaron doi, doi kaget karena gue pake nomor area Denpasar n' doi nanya gue lagi dimana, gue bilang s ekarang gue lagi di Jogja, awalnya doi gak percaya, malem itu kita ngobrol banyak, gue selalu heran sama doi, kenapa doi selalu pengen ngetes keseriusan gue, setiap kali gue tanya kenapa doi tiba2 bisa aneh sikapnya ke gue, doi pasti selalu jawab kalo dia lagi ngetes gue. aneh banget. yang bikin gue kaget doi bilang kalo gue selalu suuzon sama pacar sendiri (maksudnya doi) gue aneh doi bilang kita pacaran tapi sikap doi gak menunjukkan ke arah itu. gue tanya doi pengen oleh2 apa. tapi doi bilang bisa sms gue besoknya. besok harinya tanggal 3 ke hotel santika buat acara wisudaannya, syukur berjalan khidmat n' nilai2 adek gue baik n' bikin ortu gue bangga. di hotel makanannya banyak sampe gue gak bisa nafas karena kekenyangan. pulang wisudaan adek, main lagi ke malioboro, naik andong muter2 kota Jogja. pas lagi di malioboro gue sms doi mau dibawain apa, doi bilang minta cari gesper eiger warna ijo atau coklat and sandal eiger, alhasil gue muter2 mall malioboro nyari counter eiger, nanyain mbak2 yang jaga disitu tapi gak ada, gue muter2 lagi kedepan mall, tetep gak ada, sampe akhirnya doi sms bilang kalo counternya ada di depan pintu mall. capek dehh..mondar mandir gue cariin ternyata counternya ada di depan tempat gue berdiri. gue gak dapet gesper warna ijo atau coklat yang ada cuma warna item, gue gak jadi beli akhirnya. malem besoknya gue sama adek gue muter2 kota nyari counter eiger yang lain, tetep aja gak ada, akhirnya balik ke counter semula, hanya beli sandal nya doank. terus doi sms, katanya gak usah dibeliin gespernya. karena doi bilang gitu akhirnya gue gak jadi beli gespernya. hari minggu paginya kita sekeluarga bareng nopi sepupu gue dan udin temen kostan adek gue, naek bus way ke terminal jombor dan naik bis menuju ke candi borobudur di magelang, syukurlah bisa kesana karena awalya gue gak pernah bermimpi bisa kesana tapi akhirnya terjadi juga. biarpun panas dan capek naik ke atas lihat2 candi, Subhanallah luar biasa sungguh menakjubkan pemandangan diatas sana, n' gak lupa kita abadikan momen itu sambil jeprat...jepret pasang aksi dan berpose paling maniesss di borobudur temple.wacccauuuuu......capek pulangnya di jemput bang aceng bos adek gue di terminal Jombor, main kerumahnya n' mandi disana, karena laper, kita sekeluarga di ajak makan ikan bakar di pemancingan umum di utara jogja. pulangnya kita dianterin ke kostan, dan muter2 kota lihat UGM.senin pagi gak mau ketinggalan, masih nyempetin buat main ke malioboro dan pasar bering harjo, beli oleh2 buat keluarga di bangka n' gak lupa nyicipin gudeg, tapi emang dasar gue gak bisa makan kalo gak ada rasa pedesya, alhasil perut gue gak nerima yang namanya gudeg. tapi gak pa pa lah yang penting gue udah nyicipin. pulangnya ketemu sundari temen gue dibangka yang nyempetin mampir ke kostan. jam setengah tiga sore, berangkat ke terminal naik taksi, hujan gede banget, gue jadi gak pengen pulang. sempet sedih sihhh....ninggalin adek gue disana, tapi mau gimana lagi, dia mau berkarya di k0ta itu, n' sepertinya jogja udah jadi rumah ke 2 buat dia, maka hasilnya ortu gue gak tega ngajak adek gue buat pulang kampung. hu...hu....hu...sedih pas perpisahan di terminal. tapi kita sekeluarga sepakat masih pengen dateng ke jogja lagi, n' masih kangen kota gudeg itu.

Tuesday, 22 April 2008

rasa

rasa

aku terlalu lama menunggu
satu rasa yang sama, cinta yang selama ini kucari
setelah cinta itu kudapati
aku seolah tak memiliki, ternyata cinta saja tak berarti apa-apa
aku butuh rasa...
rasa dimana ada rindu, ada cinta, ada suka...
rasa memerlukan aku disaat kau membutuhkan aku, dan rasa memiliki hatiku.
kata saja tak cukup mewakili hatimu
aku butuh lebih dari itu
belaimu, tatapmu dan senyummu
aku belum menemukan itu dalam dirimu
entahlah aku sudah terlalu lelah menyelamimu, semua terasa menyakitkan bagiku
aku memiliki hatimu tetapi tidak rasamu
hatiku tak bisa lagi menunggu
satu rasa darimu


pk.pinang, 21 april'08. 11;34 PM

Sunday, 20 April 2008

sebuah kegelisahan untuk kekasihku


sebuah kegelisahan untuk kekasihku

aku telah lelah berpikir sendiri
bahkan aku tak punya keberanian untuk ceritakan pada mereka
tentang satu rasa antara aku dan kau...

tak ada satupun yang bisa mengerti
tentang kita, tentang rasa kita dan tentang rahasia malam kita
tidak kau ataupun aku...

lalu kita melangkah dalam satu rasa yang sama, tanpa keterikatan...
kau dan aku sama-sama berharap bisa melewatinya, meski hatiku menolak, tapi inilah rasa.
demi rasa ini aku akan coba.
lalu akankah kita mampu mempertahankannya...?

menit demi menit kulalui menunggu satu kata sapaanmu,
bahkan berhari-hari kutunggu janjimu tuk bertemu...tapi tak ada.
aku berharap dalam impian yang kosong.
ketika aku sadar, aku hanyalah sepotong kisah dalam dirimu yang tak kau hiraukan
lalu aku akan bertanya apakah ada aku di hatimu ?

aku lelah dengan hati dan pikiranku, lelah dalam satu harap, berharap agar kau tau aku membutuhkan mu dalam rasaku.

pk.pinang, 20 april'08, 2.53 AM

Thursday, 3 April 2008

cintapuccino

kenapa sih....ada moment yang pas banget, sama persis di film cintapuccino, bedanya mungkin :
1. gue nggak akan seperti rahmi yang lebih memilih nimo cinta masa lalunya dan meninggalkan raka. artinya, gue gak mungkin ninggalin aak untuk memilih doi, karena disini jelas doi nggak seperti nimo, kesamaannya karena doi adalah orang dari masa lalu gue.
2. persamaannya lagi, nimo muncul ketika rahmi udah mau merit dengan raka, hal ini juga yang terjadi sama gue, kenapa doi muncul disaat-saat yang nggak tepat, kenapa doi nggak muncul 4 tahun yang lalu atau kenapa doi nggak ngasih sinyal saat masih kuliah dulu.
3. bodohnya gue, kenapa gue terbawa emosi lagi mikirin doi, bisa nggak gue cuek dan memendam kembali perasaan lama gue yang sempet muncul karena kehadiran doi.
4. sekali lagi gue bilang, gue akan tetep memilih aak.
mungkin sedikit perbedaan, gue gak akan bisa kembali ke cinta masa lalu gue, karena yang jelas2 terlihat masa depan gue ada di aak, sekarang yang harus gue pikirkan adalah gimana caranya supaya gue bisa ngelupain doi????

Wednesday, 26 March 2008

telah terjadi sesuatu pada hati....???

gue sadar telah terjadi sesutu pada hati...gue bimbang antara perasaan ragu dan keinginan mengungkapkan yang menggebu-gebu telah membuat separuh jiwa dan raga gue runtuh sedikit demi sedikit. entah apa yang terjadi sama hati doi, gue gak pernah tau dan sampai sekarang masih belum terbaca, dari sikap doi yang awalnya mulai menunjukkan perhatian dan sampai sekarang doi sepertinya mulai menjauh atau memang sengaja mengambil jarak, mungkin doi sadar, "TIDAK MUNGKIN" adalah kata-kata yang tepat untuk dipajang pada posisi kami saat ini, awalnya kami adalah sepasang makhluk yang saling tak kenal, namun masih gue ingat dengan jelas, sore itu (kira-kira 3 tahun yang lalu) doi masuk ke kelas gue saat awal semester baru, yang gue tau doi dan temen-temennya adalah anak kuliah pagi yang pindah kuliah sore. saat itu doi dan temen2nya masuk kelas masih dengan gaya yang malu-malu.memang awalnya gue tertarik dengan salah satu temen doi yang sekarang menjadi temen akrab gue, dari situ kita mulai kenal dan terjalin suatu hubungan yang akrab, kita jadi temen baik, kemana-mana selalu sama-sama, dan saat-saat itu menjadi moment yang sulit banget gue lupain. dari itulah gue mulai ngelirik doi (sorry bukannya gue genit, tapi doi mampu membuat gue merasa nyaman ada di dekat dia) tapi gue sadar, dulu gue pernah mengucapkan kata-kata yang hingga sekarang sangat gue sesali, gue pernah bilang gue nggak akan pernah jatuh cinta sama temen sendiri, tapi kenyataannya gue gak bisa menghindari perasaan itu, tetep aja, gue suka dan sampai sekarang perasaan itu sangat menyiksa gue. hingga saat sekarang ini, bahkan detik ini saat gue menulis posting ini, masih tetep aja gue gak bisa ngelupain doi, padahal saat ini yang gue rasakan doi mulai menjaga jarak dengan gue. entah apa yang dipikirkan doi gue gak pernah tau, tapi yang jelas, ini beberap opsi mengapa doi ngindarin gue :
1. doi tau kalau sekarang gue masih pacaran sama cowok gue, dan pernah liat gue jalan sama cowok gue.
2. atau memang doi hanya menganggap gue temen dan merasa nggak mungkin suka sama gue.
3. atau doi memang nggak kepikiran apa-apa tentang gue, dan murni hanya temen.
nah selain 3 kemungkinan diatas gue punya beberapa opsi mengapa gue pikir kalau doi juga suka sama gue, diantaranya :
1. dari sekian lama hubungan temenan kita, gue ngerasa doi juga punya feel yang sama dengan gue.
2. setiap temen-temen kita jodohin kita, doi hanya senyum2 nggak menunjukkan suka atau sebaliknya, doi hanya senyum dan senyum. (penasaran nih gue...)
3. setiap gue sms sama doi, doi selalu bilang belum punya pacar dan selalu bilang susah nyari pacar (maksudnya apa nehhh...)
4. dan puncaknya malam itu, doi kelihatannya enjoy banget jalan sama gue. (atau perasaan gue aja yahhh...tapi sumpah gue nangkep banget dari matanya)
5. terus pas malem gue ultah doi sms, dan kata-katanya bikin gue gemes banget sama doi.

selain beberapa opsi ini gue juga punya beberapa opsi yang mungkin bisa dibilang feeling gue yang salah besar, diantaranya :
1. mungkin waktu doi ngajak gue jalan malam itu karena doi kangen sama gue sebagai seorang sahabat yang udah lama nggak ketemu.
2. atau mungkin malam itu doi lagi mabuk ngajak gue keluar, hingga dia nggak sadar kalo lagi jalan sama gue.
3. ini lagi nih...kemungkinan lainnya mungkin karena doi susah nyari pacar dan kebetulan ada gue, jadi doi ngajak gue jalan malam itu, (nasib gue sedih banget nih...)
4. atau jangan2 doi pikir gue udah putus sama cowok gue jadi iseng doi ngajak gue keluar (salah gue juga sih nggak ngasih jawaban pasti waktu doi nanya hubungan gue sama cowok gue)
5. atau ini kemungkinan terakhir yang sangat-sangat menyedihkan, kalo ternyata gue aja yang ke geeran nganggep doi suka juga sama gue, padahal malam itu doi ngajak gue keluar, asli hanya karena doi nganggep gue hanya temen deketnya yang kebetulan aja malem itu diajak jalan (salah gue juga sih gue yang mulai sms an duluan dan mau-mau aja di ajak jalan).

gue makin pusing jadinya, sebenernya gimana sih perasaan doi ke gue....nah gue baru mau nyari jawabannya ntar malem Insya Allah.....besok masih ada kelanjutannya di posting.

Monday, 24 March 2008

menjaga hati itu tak mudah....

menjaga hati itu tak mudah, sungguh kalaupun aku bisa belum tentu dengan dia, ingin kukatakan pada semua "tak ada apapun antara kami" tapi bisakah mulat bicara demikan bila hati berkata lain. ini sepenggal kalimat yang gue curi dari sebuah novel yang lagi gue baca judulnya Nafsul Muthmainah, kenapa demikian, karena gue sekarang baru ngalamin hal-hal sama seperti dalam novel tersebut. gue merasakan sekali bagaimana sulitnya menjaga hati, sulitnya menghindari perasaan suka. gue bingung, mungkin sekarang gue lagi ngalamin sakit rindu yang berlebihan seperti maria yang merindukan fahri dalam novel ayat-ayat cinta. gue merasakan sekali, seluruh waktu gue hanya tersita untuk memikirkan dia, sekarang gue dilema, gue bingung kalo nggak gue nyatakan dengan sejujurnya bagaimana perasaan gue yang sebenarnya sama dia, mungkin gue bisa mati karena rindu, tapi kalau gue nyatakan perasaan gue, akan banyak sekali resikonya, antara lain :
1. kalau ternyata doi nggak suka gue menyatakan perasaan gue, doi bakalan ngindarin gue, jangankan bertemu, bales sms gue pun doi bakalan nggak mau.
2.masih sama dengan point pertama, hubungan pertemanan gue sama doi yang udah terjalin dari masa kuliah akan sia-sia dan lenyap seketika, hanya karena gue suka sama dia.
3. kebalikannya jika ternyata doi senang saat gue nyatakan perasaan gue kalau gue suka sama dia, yang gue takutin, doi bakal nerima cinta gue dan bersedia jadi pacar gue. sedangkan bukan hal itu yang gue inginkan, karena itu tak mungkin karena saat ini gue lagi menjalin hubungan dengan seseorang, dan gak bakalan ada cowok yang mau diduain. dan gue nggak akan melakukan itu karena dari misi ini yang gue inginkan hanyalah agar doi tau kalau gue suka sama dia dari zaman-zamannya kuliah dulu, maksud gue nyatain semua ke dia, biar beban gue hilang gitu..., tapi entahlah....gue hanya manusia, bisa khilaf kapan aja gue gak tau bisa-bisa aja gue terbawa emosi dan berharap bisa selingkuh.
4. yang gue takutin lagi, doi ternyata juga suka sama gue (geer...)dan mau kita pacaran, tapi dengan syarat gue harus ninggalin pacar gue yang sekarang.
5. adapun ini point yang terakhir....yang gue takutin, doi bakal ketawa saat gue nyatain perasaan gue. dan doi bakal bilang "gila lo yah...lo geer banget, kita kan udah temenan dari zaman kapan gitu, kok bisa lo suka sama gue" kalaupun itu terjadi mungkin gue bakal kabur ke kutub utara kalo bisa, gue gak bakalan muncul lagi di hadapan doi.

gue bingung banget, gue gak niat minta jawaban yang muluk-muluk dari doi, karena memang bukan jawaban ya atau tidak yang gue mau, gue hanya ingin doi tau kalau belakangan ini gue terus kepikiran sama doi, dan itu sangat mengganggu jiwa dan raga gue. itu aja....

Monday, 3 March 2008

insiden kecil

senin 03 march 2008, gini ceritanya.... pagi tadi cuaca agak sedikit mendung selain itu udara sangat dingin, dan nggak biasanya gue males bangun untuk berangkat kantor, jam 07.05 menit akhirnya dengan sangat terpaksa gue bangun and langsung mandi. byur....byur airnya dingin banget,jam 08.00 udah kelar dandan and siap berangkat kantor. tapi nggak taunya turun hujan tapi gak deras sich cuma gerimis kecil aja, tapi lumayan basah kalo gue nekad berangkat kantor hanya dengan sepeda motor, jadi gue nunggu lagi sampe jam 08.30 berangkat kantornya. sesampainya di kantor...masih gerimis juga.
sampe kira-kira jam 10.00 wib gue sama bos gue mau langsung ke Bank Mandiri sambil beli tinta buat printer, sesampainya di Bank, ternyata rame banget, antriannya lumayan panjang sampe nomor 400 an. bayangin aja, pas gue dateng baru antrian dengan nomor 315 sedangkan nomor antrian gue nomnor 423, aduh capek dehhh...nunggunya kelamaan. trus bos gue manggil, katanya dia pinjem ATM orang yang bisa bantu dia buat transfer uangnya. gak ngerti juga sih....setelah beberapa saat, akhirnya selesai juga dan kita langsung cabut ke tempat jual tinta, pas lagi asyik-asyiknya jalan, eiittt......braakkk....terdengar benturan yang sangat kuat ya Allah....ternyata pas kita mau belok ada anak SMA yang nerobos samping kanan mobil kita, hingga tuh anak terpelanting jauh didepan mobil. motornya ringsek dan untunglah tuh anak nggak parah-parah amat lukanya, hanya lecet di bagian muka, tangan dan kakinya. setelah itu gue panik banget, baru pertama ngalamin hal yang seperti itu. setelah itu tuh anak kita gotong ke rumah sakit terdekat. dan akhirnya untunglah si anak SMA nggak apa-apa. ternyata pas sampe rumah, gue baru sadar, biasanya setiap pagi pas berangkat ke kantor gue selalu berdoa agar diberi kemampuan dan bimbingan sama Allah agar apa yang gue kerjakan bisa gue pertanggung jawabkan dan bisa jujur dalam hal apapun, and tadi pagi gue melupakan kebiasaan gue. makanya terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. tapi manusia cuma bisa apa, kalau sudah musibah kita nggak bisa menolaknya, hanya sang Khalik yang Maha Mengetahui semuanya. mungkin ini pelajaran yang bisa gue petik dari kejadian hari ini, and gue harap nggak ada lagi hal-hal buruk yang menimpa gue dan keluarga maupun orang-orang terdekat dan orang-orang yang gue kenal. Amien.

Thursday, 28 February 2008

lagi...lagi cerpen gue gak selesai???

I. semusim di neraka

Aku menutup kedua telingaku dengan bantal, kurasa tubuhku mulai menggigil, darah panas terasa mengalir dari otak hingga ujung jari-jari kakiku, aku tak tau apakah sekarang aku sudah hamper gila atau bahkan sekarang sudah gila. Sudah hamper dua jam aku mengurung diri di dalam kamar, tapi masih terdengar suara-suara hujatan dan caci maki lengkap dengan bunyi-bunyi barang pecah, entah berapa banyak gelas dan piring yang telah pecah sia-sia.
Pertengkaran malam ini kurasa pertengkaran paling hebat dibandingkan pertengkaran sebelum-sebelumnya. Aku benar-benar benci dengan keadaan ini. Aku sungguh tak tahan lagi melihat kedua orang tuaku bertengkar, dan aku lebih tak tahan lagi melihat ibuku menangis. Selalu saja ada masalah didalam keluargaku, dan malam ini aku benar-benar berada di titik kemarahanku.
Selama ini aku masih terus bertahan dan bersabar menghadapi masalah yang mendera keluargaku. Entah siapa yang harus disalahkan karena telah menciptakan neraka di dalam rumah kami. Beberapa tahun belakangan ini hatiku selalu tak tenang, gelisah dan banyak sekali ketakutan-ketakutan yang terlintas di benakku. Percayalah perasaan itu terasa berat dan melelahkanku, membunuhku pelan-pelan seperti penyakit akut yang menahun. Kalau bukan karena ibu mungkin aku sudah berulang-ulang kali mencoba membunuh diriku sendiri, kalau tak ada ibu mungkin saat ini aku sudah berbaring di atas rel kereta api, membiarkan tubuhku hancur berkeping-keping dilindas roda-roda kereta, atau bahkan aku sudah meletakkan cutter tajam di pergelangan tanganku, membiarkan mata pisaunya memotong habis urat nadiku, tapi itu semua tidak aku lakukan, karena ibu, ibu yang selalu menguatkan aku.
Dan malam ini untuk yang kesekian kalinya aku diusir dari rumah, dan kali ini aku benar-benar ingin pergi, sejak lama aku ingin sekali meninggalkan rumah ini, pergi dan mencari kehidupanku sendiri. Tapi setiap kutatap mata itu, hatiku perih seperti dihujam ribuan belati, dan akupun tak tega meninggalkan ibuku dalam neraka dunia itu. Tapi kali ini entah kekuatan apa yang membuatku tegar tapi yang jelas, tadi ibu memintaku pergi, ibu ingin aku aku pergi meninggalkan rumah ini, aku tau ibu tak ingin aku ikut menderita karena pertengkaran mereka. Tapi ini lebih menyakitkan dari apapun, dan seharusnya aku lebih tegar dari ibu.
Malam masih terasa hening, aku baru berani keluar dari kamar, kulihat ibu tidur dengan mata sembab karena menangis, masih lekat sisa-sisa air mata di pipinya. Kulihat barang-barang berhamburan diruang makan. Sementara itu ayah masih duduk di ruang keluarga sambil menghisap rokok kreteknya, entah apa yang dipikirkannya, asap rokok ia hembuskan dan mengepul ke udara, ruangan ini sudah penuh dengan asap rokok. entah sudah berapa bungkus rokok yang ia habiskan dalam waktu semalam ini, tapi yang jelas kulihat puntung rokok bertebaran dilantai. Aku pergi, aku tak meninggalkan pesan atau sepucuk suratpun dikamarku. Aku tau ibu pasti terluka, sama seperti aku saat ini, tapi mungkin ini lebih baik, paling tidak untukku sendiri.
Aku berjalan dalam pekat malam, kutinggalkan semua kenangan menyakitkan dirumah ini. Aku berbalik, kupandang kembali rumah kami, rumah yang telah menorehkan sejarah dalam hidupku, aku harap ibu baik-baik saja, aku harap ibu lebih kuat dan tegar melebihi aku. Aku harap ibu tak mencoba melakukan hal-hal bodoh yang sempat terlintas dalam pikiranku, aku harap ibu tak berbaring di atas rel kereta atau mencari pisau cutter untuk memotong nadinya, setidaknya kuharap ibu masih ingat aku.
Saat ini aku sudah berada di stasiun kereta api, uang 800 ribu rupiah ini mungkin cukup membawa ku ke Jakarta, besok raditya pasti sudah menungguku di stasiun gambir. Raditya dia yang paling mengerti aku saat ini, mungkin hanya dia nama yang selalu kuingat setiap aku dalam masalah. Sejak pertama kenal, aku selalu menceritakan apapun yang terjadi padaku, kami belum sekalipun bertemu, aku hanya melihat photonya di Friendster, ia tau semuanya tentang aku, hubungan kami hanya berlangsung lewat sms, 4 tahun belakangan ini mungkin ia telah jadi bagian dari diriku, ia selalu ada untuk menguatkan aku, aku selalu iri dengan kehidupannya yang kupikir tanpa beban, Raditya seorang yang bebas, hanya itu yang aku tau tentangnya. Setiap mendapat masukan darinya aku seperti baterai yang baru di charge dan kali ini aku pergi menemuinya.
Lelah dan kantuk yang tak tertahankan, aku benar-benar ingin pergi, pergi ketempat dimana aku berharap bias hidup tenang. Aku memang tak punya siapa-siapa di Jakarta, sedikit gambaran tentang Jakarta yang terlintas dibenakku, Kota yang besar, ramai, macet, banjir, dan kehidupan yang penuh tekanan cukup membuatku takut membayangkan bias bertahan hidup di Jakarta, tapi hidup memang harus berjalan, hanya pesan ibu yang kuingat saat ibu memintaku meninggalkan rumah kami, berjuanglah untuk bertahan hidup dan bertahanlah dalam kondisi sesulit apapun. Esok saat matahari terbit, aku sudah berada di Jakarta.

2. raditya

aku berdiri di lorong kereta Stasiun Gambir, tak terasa aku sudah berada di Jakarta, Ya inilah Jakarta, tempat dimana saat ini aku berdiri. Meraih mimpiku, untuk bisa berjuang hidup lebih baik lagi. meski tak bisa kupungkiri ini juga sebagai pelarian untuk menghapus satu lembaran pahit yang tak ingin kukenang. inilah kota orang-orang meraih impian. Kulihat gedung-gedung bertingkat di wilayah Jakarta pusat, aku melihat suasana yang tampak asing bagiku, kulihat langit begitu buram, buram sekali Aku bahkan tak pernah melihat suasana langit Yogya yang begitu buram, Orang-orang berlalu lalang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Semua orang serba terburu-buru, dan tak mau mengalah, semua orang opurtunis karena dikota semacam ini kesempatan adalah segala-galanya. Mataku masih saja mencari-cari sosok Raditya, aku masih menerka-nerka yang manakah Raditya diantara ratusan orang-orang yang ada di stasiun ini, aku pun mengaktifkan HP ku yang dari kemarin sengaja aku matikan, kulihat ada 15 sms masuk, dari saudara-saudaraku dan semuanya menanyakan keberadaanku dimana. Aku tak berniat membalas sms mereka, bukannya tidak mau, tapi aku harus mulai hidup baru, aku tak akan pulang sebelum aku berhasil, yah itu janjiku. Sampai akhirnya ada telepon masuk aku lihat tertera nama Raditya di layer handphone ku.
“hallo” terdengar suara yang tak asing lagi bagiku.
“ya” jawabku gugup
“andrea loe dimana”
“gue Radit, gue udah di stasiun sekarang, posisi loe dimana?” tanyanya masih dengan suara bising disekitarnya.
“gue di loby, loe dimana? Tanyaku tak sabar.
“gue diparkiran, loe tunggu yah gue jemput loe disana, jangan keman-mana dulu, loe pakai baju apa?"
"gue pakai cardigan hitam, oke gue tunggu loe" aku masih sedikit gugup bertemu Raditya, meski selama ini hubungan kami terasa cukup dekat tapi tak dapat kupungkiri kami belum pernah bertemu, dan rasa kaku pastilah ada saat ini.
Aku masih duduk di loby dengan perasaan campur aduk, kulihat sesosok laki-laki yang sepertinya kukenal datang menghampiriku, ya…itu raditya, dia langsung mengenaliku. dia terlihat jauh berbeda dari yang aku bayangkan, bahkan terlihat lain dari yang kulihat di Friendster. Tampangya sedikit agak lusuh, bahkan terkesan urakan. Jantungku kian berdetak kencang, dari kejauhan kulihat raditya tersenyum padaku, akupun membalas senyumnya. Sampai akhirnya ia datang menghampiriku.
“hai,” sapanya sambil mengulurkan tangannya
akupun membalas salamnya masih dengan perasaan gugup. Aku lihat Raditya cukup tampan, hanya saja ketampananya tertutup dengan penampilannya yang agak urakan, aku juga melihat tato yang ada di lengan kirinya dan pierching di kedua telinganya, namun tak membuat aku takut.
“loe andrea kan.”
“eh….iya, sorry gue nervous ketemu sama loe,” jawabku gugup
“kenapa gue seram ya,”
“ng…nggak, gue nggak percaya aja akhirnya kita bias ketemu juga,” balasku
aku masih saja memandang lekat wajah Raditya, rasanya tak ku percaya dalam waktu semalam saja akhirnya aku bias bertemu dengan orang yang hanya kukenal dari suaranya.
“ayo berangkat sekarang, memangnya kita mau berdiri disini aja,” ujarnya sambil meraih tas bawaanku.
Akupun mengikuti langkah Raditya sampai ke perkiran.
“nanti kalau udah nyempe ke rumah gue, loe jangan kaget ya,”
aku memandang Raditya dengan tersenyum
kami mulai keluar dari stasiun Gambir, Raditya menjemputku dengan motornya. Cuaca di Jakarta sangat panas siang itu, terasa sekali sinarnya yang begitu menyengat menggigit kulitku. Raditya tak pernah diam, selalu ada hal-hal yang ditanyakannya padaku, meski saat ini kami berada di atas motor, dia selalu berusaha meringankan bebanku dengan celotehannya yang terkadang tak lucu tapi mampu membuatku tertawa.
Kami berhenti di depan sebuah warteg, Raditya mulai bertanya padaku
“loe nggak malu kan re kalau makan di warteg,” ujarnya sambil menatapku. Re Raditya memang memanggilku dengan sebutan itu, setiap kali raditya menyebut namaku, hal itu mampu menghapuskan sedikit rasa asing diantara kami.
“kok diam aja, loe nggak malu kan makan di warteg,” ujarnya sambil mengulang pertanyaannya.
“nggak kok, gue biasa makan di warteg,” jawabku
kami pun mulai masuk kesebuah warteg yang tidak begitu luas, Raditya mulai memesan es teh manis.
‘loe mau makan apa re, loe pesen aja jangan sungkan, gue yang traktir kok,” ujarya sambil bercanda
“gue pesen nasi pecel aja,” ujarku dengan suara pelan.
“nggak nyesel Cuma pesen itu, gado-gado nya enak juga loh re, disini tempat langganan gue,” ujar radit lagi
aku hanya bias tersenyum setiap mendengar celotehan Radit.
Setelah selesai makan di warteg kami melanjutkan perjalanan menuju ke rumah radit, seperti tadi, Raditya tek henti-hentinya beceloteh. Dan akupun selalu tersenyum setiap mendengar celotehannya.
Kami mulai memasuki sebuah gang sempit yang padat sekali penduduknya, aku lihat tak ada sedikit pun celah yang membatasi satu rumah dengan rumah lainnya, gang ini begitu sempit hanya bias dilalui dua motor.
Tiba-tiba Raditya menghentikan motornya tepat di depan sebuah bangunan kecil berlantai dua, tepatnya seperti kamar kos-kosan. Aku masih sedikit bingung dan asing dengan suasana baru ini.
“ayo re, ini tempat tinggal gue, lo jangan sungkan, anggap aja rumah sendiri, tapi jangan kaget ya, disini ya beginilah keadaannya, serba pas-pasan, tapi loe jangan khawatir disini aman kok,” Raditya masih berpanjang lebar berbicara padaku
“nggak apa-apa kok dit, gue seharusnya berterima kasih banyak sama loe, karena udah mau nampung gue disini,”
“ayo masuk dulu,” ujar radit sambil membantu memasukkan tas bawaanku ke dalam rumahnya.
Akupun mengikuti langkah Radit memasuki ruangan itu, dinding dan lantai yang lembab serta bau pengap sangat terasa di ruangan ini, aku lihat barang-barang yang ada di ruangan ini t
ak tersusun dengan rapi, bahkan sedikit kotor. Sementara itu mataku tertuju pada poster-poster dan tulisan-tulisan yang terpampang di dinding ruangan ini, disana ada poster band-band barat dan tulisan-tulisan di dinding itu semuanya berisi kata-kata caci maki.

“disini agak kotor re, loe jangan jijik ya, mungkin loe nggak terbiasa dengan keadaan seperti ini,”
“nggak apa-apa kok dit, loe jangan ngomong begitu, gue jadi nggak enak sama loe, gue udah terbiasa dengan keadaan seperti ini,” ujarku mencoba membohongi Radit. Sungguh aku tak terbiasa dengan keadaan seperti ini, tapi ruangan pengap dan lembab ini mungkin lebih baik dari pada dirumahku, dan mulai saat ini aku harus terbiasa dengan lingkungan baru ini.
“loe tidur diatas aja re sama bimby, nanti gue kenalin loe sama dia, loe jangan khawatir bimby cewek juga kok sama seperti loe,” ujar Radit ketika melihat ekspresiku yang sedikit kaget karena ia menyebut nama Bimby.
“ gue belum pernah kan cerita sama loe tentang bimby?”
“ eh…iya,” jawabku.
Radit memang belum pernah sekalipun bercerita tentang bimby, sedikit rasa penasaran mengusik hatiku.
“loe istirahat aja re, gue bikinin minum buat loe,”
“loe nggak usah repot-repot dit,”
sementara radit membuat minuman di dapur, tiba-tiba mataku tertuju pada photo-photo yang terpampang di atas lemari. Disana ada photo radit dan teman-temannya dengan kostum ala anak punk, sepertinya dalam sebuah konser musik, disana juga ada photo radit bersama dengan seorang wanita bertubuh agak tambun dengan potongan rambut ala Mohawk, mataku juga tak lepas dari sebuah photo yang kini membuat aku sedikit penasaran, photo radit dengan seorang wanita cantik, tampaknya photo tersebut sudah sangat lama.
“itu photo gue dengan teman-teman gue re,” ujar radit mengagetkan aku.
Akupun langsung meletakkan kembali frame photo tersebut ke tempat asalnya.
“ini diminum, Cuma ada air putih doang, nggak apa-apa ya,”
“iya nggak apa-apa,” ujarku masih sedikit gugup.
Kamipun duduk dilantai dengan beralas karpet, disini memang tak ada kursi, hanya karpet lembab ini yang melapisi lantai.
“disini gue tinggal berdua sama bimby, dia teman gue, dia anak baik kok meski tampangnya agak sedikit sangar, tapi loe jangan khawatir, dia juga cewek kok sama seperti loe,” ujar Radit membuka obrolan.
“gue tinggal disini apa nggak ngerepotin loe dit,” aku memotong pembicaraan.
“loe jangan khawatir re, disini orang-orangnya baik-baik kok, tapi yah, beginilah keadaannya, agak sedikit kotor.”
Aku terdiam sambil masih memandangi tulisan-tulisan yang ada di dinding itu.
“kenapa? Loe jangan heran dengan tulisan-tulisan itu, itu kerjaan anak-anak mereka punya bakat nulis tapi nggak tersalurkan, makanya tembok yang jadi sasaran,” ujar radit bercanda.
Aku masih sedikit heran ketika radit menyebut kata anak-anak. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“dit loe udah lama tinggal disini,” ujarku
“udah 2 tahun terakhir, kemarin gue di kontrakan gang sebelah, tapi karena kontrakannya di rehab jadi gue pindah disini. Ini juga sebenarnya kontrakan bimby, tapi kita join bayar sama-sama.”
“sekarang bimby nya kemana?” tanyaku
“bimby lagi kerja, dia Bantu-bantu temen gue di Distro.”
“oh…”
“yah…lumayan lah re, dari pada tidur di jalanan, paling nggak masih ada atap buat berteduh kalau hari hujan,”
“dulu, waktu gue sedang ngalamin gejolak jiwa masa remaja, gue pernah beberapa kali dalam waktu yang lama tinggal di jalanan, kalau dalam istilah anak punk “on the street”, dulu gue bias tidur dimana aja, di halte, di pinggiran jalan, bahkan di trotoar. Mencari makan dengan mengamen dan berbagai cara asal nggak nyolong. Dulu jiwa gue begitu liar, istilahnya gue adalah seorang punkers. Tapi sekarang ini gue nggak bergaya seperti anak-anak punk pada umumnya, Mohawk, boots, dan jaket kulit, itu hanya aksesoris semata, yang penting idealisnya kudu tetap terjaga.”
“jadi loe seorang punk dit?” tanyaku dengan sedikit penasaran
“loe jangan kaget re, punk nggak semuanya buruk.” Balas Radit.
“maaf dit gue nggak bermaksud menilai buruk loe, gue nervous aja, ternyata radit yang gue kenal adalah seorang punk, gue iri dengan kebebasan loe dit, gue iri dengan hidup loe yang sepertinya tanpa beban,”
“siapa bilang hidup gue tanpa beban re, jadi punk bukan berarti bebas dari segala masalah, gue juga manusia sama seperti loe, banyak banget permasalahan yang gue hadapin, Cuma gue berusaha ngadepinnya dengan tenang, gue berusaha ngejalanin hidup mengalir apa adanya.

“gue pernah ngalamin masalah yang lebih parah dari loe, re?”
mataku langsung tertuju kea rah radit ketika ia mengatakan itu.
“dulu waktu gue masih di Semarang, gue juga ngalamin hal yang sama seperti loe, keluarga gue juga berantakan, bokap gue diam-diam punya WIL, sementara ibu gue sakit-sakitan karena nggak sanggup menahan beban sendiri. sampai akhirnya gue terpaksa berhenti kuliah karena masih ada adik gue yang harus di sekolahin juga. Gue lari ke Jakarta, ketika nyokap benar-benar berani ngambil keputusan buat cerai dari bokap, gue rasa itu lebih baik. Cita-cita gue pengen jadi orang yang berhasil di Jakarta, biar bias ngidupin nyokap dan adek-adek, tapi nyatanya sampai sekarang gue belum bias memberikan apa-apa buat mereka.” Ujat Radit sedih.
kulihat air muka radit tampak berubah ketika menceritakan masa lalunya.
“gue juga berharap bias tegar seperti loe dit, walaupun akhir-akhir ini gue ngerasa hidup ini nggak adil,” ujarku pelan.
“loe nggak boleh bicara begitu re, hidup ini sudah sangat adil, karena nggak ada kebahagiaan yang bias terlihat dan terwujud tanpa ada pembandingannya yaitu penderitaan, juga nggak ada orang yang menilai sesuatu itu benar tanpa ada pembandingannya yaitu salah, karena benar dan salah itu relative, jadi menurut gue hidup ini sudah sangat adil re,”
aku terdiam mendengar kata-kata Radit.
“kita memang harus tetap ngejalanin hidup re, meski sesulit apapun, semua masalah pasti bias dilalui, yang penting jangan putus asa dan terus berusaha.”
Selalu begitu, radit selalu menguatkan aku. Aku harap bias tegar seperti radit, aku harap bias ngejalanin hidup dengan baik di Jakarta.
Tak terasa waktu hamper malam, kami masih membicarakan banyak hal sampai akhirnya sesosok wanita bertubuh tambun datang menghampiri kami.
“hai,” sapanya dengan ramah
“udah lama nyampenya, sory nggak ikutan jemput loe di statsiun,”
aku tersenyum masih dengan ekspresi bingung mendengar perkataannya, mungkin radit sudah menceritakan semua tentang aku.
“radit banyak cerita tentang loe, oya kenalin gue bimby, loe anggap rumah sendiri aja, kita ngumpul-ngumpul disini, kalau ada ya kita makan, kalau nggak ada juga ya kita puasa sama-sama” ujarnya lagi sambil bercanda.
“iya puasa biar loe bias kurus dikit,” timpal radit
“eh… loe nggak liat apa body gue udah bohay gini,” selanya sambil menepuk pantatnya yang kurasa berukuran 3 kali pantatku.
Akupun tersenyum mendengar celotehan mereka. Mereka tampak akrab sekali, bahkan tanpa beban. Aku harap bias seperti mereka, masih bias tertawa, walau di hati sangat terasa sakit.
“ini gue bawain bandrek buat loe berdua, lumayan diluar udaranya dingin banget, tumben-tumben yah udara Jakarta bias sedingin ini kalo malem.” Ujar bimby nggak berhenti bicara.
“asyik, bimby lagi banyak rejeki, ini nih re, yang gue suka dari bimby, nih anak kalau lagi punya duit nggak suka pelit orangnya, dia selalu baek hati,” puji radit sambil melirik bimby.
“udah loe nggak usah banyak basa-basi, bosen gue denger basa-basi loe” balas bimby.
Sementara itu aku hanya bias tersenyum mendengar celotehan mereka.
Tak terasa malam telah larut, kami bertiga pun larut dalam obrolan yang tak henti-hentinya membuat aku tertawa. Sedikit beban terasa berkurang dalam diriku, tapi entah bagaimana besok, yang jelas, ini bukan akhir dari kisahku, ini adalah awal perjalananku.


3. aku dan Jakarta
tak terasa sudah 3 hari aku berada di Jakarta, selama 3 hari ini juga aku tak bias memejamkan mataku, selintas bayangan ibu dan kejadian-kejadian kemarin masih berkelabat di benakku. Bukan itu saja, tampaknya aku harus mulai beradaptasi dengan lingkungan disini, terutama dengan dengkuran yang keluar dari tubuh tambun Bimby sewaktu tidur.
Pagi yang kurasa tak secerah pagi waktu di Yogya, aku mencoba keluar kamar dan berdiri di loteng untuk menghirup udara pagi, namun kulihat gumpalan awan hitam berarak diatas langit, nampaknya udara di Jakarta sudah tak ada yang bersih, semua sudah tercemar. Aku memandang kebawah, seperti 2 hari kemarin aku masih melihat pemandangan yang sama yang dilakukan warga di gang ini. Ada pak Daeng yang siap-siap menjajakan bubur ayam kelilingnya, juga ada sari, gadis asal indramayu, tetangga sebelah yang baru seminggu jadi SPG di Jakarta. Juga Bang Obin yang setiap pagi selalu memanasi mesin motornya dengan menggas motornya dengan sekuat-kuatnya.
Aku lihat Bimby masih tertidur pulas, akupun turun keruangan bawah.
“pagi re, gimana tidurnya? Nyenyak” ujar radit mengagetkan aku.
“nyenyak kok,” balasku berbohong
“loe mau berangkat kerja, Dit”
“iya gue shift pagi hari ini,” ujar Radit sumringah.
Kuamati Radit lumayan rapi dengan seragam kerjanya, Radit memang sudah hamper setahun ini bekerja sebagai consumer service di salah satu restoran siap saji di Jakarta, Raditya memang seorang tipe pekerja keras, aku jadi tak enak hati berada lebih lama disini sementara aku belum mendapatkan pekerjaan.
“Dit gue mau cari kerja hari ini?” ujarku mantap.
Kulihat Radit tercengang sambil memasang tali sepatunya.
“tapi loe kan baru 3 hari di Jakarta re, emang udah tau jalanan di Jakarta?” Tanya radit
“belum sih,” jawabku.
“rencananya mau cari kerja dimana re,”
“entahlah Dit, kerja apa aja, yang penting halal”
“oke dech, nanti kalau gue off, gue temenin lo nyari kerja oke?” ujar radit sambil mengedipkan matanya.
“oke, gue berangkat kerja sekarang, bye”
“iya hati-hati di jalan yah?” ujarku.

***

jam menunjukkan pukul 10.00 siang, tapi Bimby belum juga bangun, tubuhku terasa pegal sekali setelah tadi aku membersihkan rumah ini, mulai dari menyapu, mengepel dan mencuci piring.
Aku duduk sambil menonton TV di ruangan bawah, tiba-tiba Bimby datang dan mengejutkan aku.
“aduh re, gue kesiangan nih, kok loe nggak banguin gue sih,” ujar Bimby terburu-buru.
“sorry Bim, gue lihat loe nyenyak banget tidurnya, gue nggak tega bangunin loe.”
“loh kok tumben rumah ini bersih, loe yang ngerjain semua?” Tanya Bimby lagi dengan heran.
Aku hanya tersenyum melihat ekspresi Bimby yang lagi kebingungan.
“loe nggak mandi Bim,”
“nggak deh, udah nggak keburu, lagian mandi pa nggak, nggak ngaruh tuh sama gaji gue,” sahut Bimby seenaknya.
Aku hanya tersenyum melihat Bimby yang linglung karena terburu-buru.
“eh re, kalo loe bosen dirumah, nggak apa-apa tuh ikut gue ke Distro, disana loe bias liat-liat kita bikin kaos, dari proses ngedesain gambar, nyetak sampai proses masuk distronya, nggak pa-pa lagi, disana rame kok” ujar Bimby.
“gak usah dech Bim, lain kali aja, biar gue dirumah aja” jawabku.
‘apa loe nggak bosen, gue ma Radit pasti malem pulang kerjanya, nggak apa-apa nih kalo ditinggalin sendirian,” ujar Bimby sedikit khawatir.
“udah gue nggak apa-apa kok” jawabku.
“ya udah kalo gitu gue berangkat dulu ya, bye?” ujar Bimby sambil berlari keluar gang.

***

malam ini aku turun kejalan, menikmati malamnya Jakarta yang dingin, aku sangat asing disini, sebuah dunia yang lain dari keseharianku. aku berjalan menyusuri trotoar, jalanan masih sangat ramai, bahkan orang-orang baru pulang bekerja, padahal hari sudah hamper jam 8 malam. Inilah aktifitas Jakarta yang tak pernah mati. Suara lalu lalang kendaraan sangat bising,